SAMPIT – Semarak bulan suci Ramadan 1443 Hijriah semakin terasa. Sepekan lagi, umat muslim mulai melaksanakan ibadah puasa. Buah khas Ramadan yakni kurma mulai dipasarkan sejumlah pedagang di Kota Sampit.
Edi Tanjung, salah seorang pedagang kurma, mengaku sudah mulai menjual kurma sepekan terakhir ini. Berbagai jenis buah kurma dipajang dengan harga yang bervariatif. Semakin berkualitas varian rasa kurmanya, semakin mahal harganya.
Misalkan jenis buah kurma madu merk Barari yang berasal dari Tunisia dijual dengan harga mulai dari harga Rp 25 ribu ukuran 250 gram, Rp 50 ribu ukuran 500 gram, Rp 100 ribu ukuran 1,2 kg, hingga Rp 400 ribu kemasan 5 kg.
Selain kurma merk Barari, adapula kurma merk Palm Fruit dan Golden Valley. Kedua merk ini juga hasil panen impor dari Tunisia. Untuk merk Palm Fruit dijual seharga Rp 65 ribu per 500 gram dan untuk kurma merk Golden Valley di kisaran harga Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu per kg.
“Ketiga merk ini (Barari, Golden Valley dan Palm Fruit) cukup banyak diminati pembeli. Harganya terjangkau, teksturnya lembut dan rasanya manis,” kata Edi Tanjung, Sabtu (26/3).
“Ada juga kurma Deglet Nour asal Tunisia saya jual Rp 60 ribu per 500 gram, rasanya mirip Palm Fruit, warna lebih pucat kecoklatan dan dagingnya tidak selembut Barari, tapi tetap terasa manisnya,” tambahnya.
Tidak hanya itu saja, Edi juga menjual kurma asal Mesir yang dijual Rp 60 ribu per kg, Kurma Nabawi asal Madinah, kurma Ajwa Rp 12 ribu – Rp 15 ribu per biji atau berkisar Rp 900 ribu – Rp 1 juta per kg.
“Saya masih nunggu barang pesanan saya dari Surabaya lewat kapal, jadi untuk harga kurma Ajwa, Nabawi, masih belum lihat nota. Awal Ramadan semua kurma lengkap, siap jual,” katanya.
Edi mengatakan, tahun ini dia memesan kurma merk Barari 30 dus (1 dus isi 12 kemasan. Setiap kemasan Barari masing-masing 500 gram. Edi juga pesan Palm fruit 30 dus (1 dus isi 24 bungkus degan masing-masing kemasan 250 gram, merk Golden Valley memesan 40 dus (1 dus isi 10 kg), kurma asal Mesir pesan 10 dus, kurma Nabawi pesan 10 dus (per dus isi 10 kg), kurma Ajwa pesan 1 dus isi 5 kg.
“Pesannya baru dua minggu lalu, saya khawatir juga kalau pesannya jauh-jauh hari barangnya tidak fresh sampai ke pelanggan,” katanya.
Di samping itu, tahun ini dia juga tak berani memesan dengan jumlah banyak. Pasalnya, selama dua tahun terakhir dia merugi hingga puluhan juta.
“Dua tahun terakhir selama pandemi Covid-19, jualan kurma banyak terbuang. Biasanya saya modal beli kurma menghabiskan Rp 150 juga – Rp 200 juta. Tahun 2020 modal sekitar Rp 200 juta, kerugian sekitar Rp 30 juta, tahun 2021 modal Rp 150 juta kerugian sekitar Rp 20 juta,” ucapnya.
Meski demikian, Edi tak merasa jera untuk tetap berjualan kurma dan kismis, kacang arab serta aneka buah lainnya seperti buah apel, naga, mangga, salak, jeruk, pisang, melon dan semangka.
“Mau enggak jualan, ya gimana. Rejeki saya dari jualan buah ini. Alhamdulillah sudah 7 tahun jualan buah di Sampit saya bisa membeli rumah, beli tanah, sampai umroh dari hasil jualan buah,” ucap pria asal Bukit Tinggi, Padang, Sumatera Barat ini.
Menurutnya, kerugian berusaha itu sudah menjadi risiko berdagang. Namun, dia meyakini, masih bisa terus bertahan berjualan aneka buah.
“Kota Sampit ini kota yang perekonomiannya cukup maju, asal ada niat mau bekerja nyari rejeki di Sampit itu mudah. Kota Sampit ini kota perantauan paling lama saya tinggali. Saya merantau sampai Korea, Papua dan kota lainnya tidak sampai 2-3 tahun. Di Sampit ini betah sampai jalan tujuh tahun,” ungkapnya.








