Dirinya pun terpaksa memilih membeli beras lokal yang harganya terjangkau. “Beli beras siam pandak saja, itu beras karau (pera) yang cocok buat nasi goreng. Kalau mau bagus lagi pakai beras Mayang sekilogram bisa dapat 13 porsi, siam pandak cuma dapat 10 porsi. Dari sisi harga setelah dihitung-hitung masih untung yang siam pandak , jadi saya pilih beras siam pandak,” ujarnya.
Kenaikan harga beras tak membuatnya menaikkan harga nasi goreng. Penjualan nasi goreng tetap dijualnya seharga Rp 13 ribu per porsi. “Susah mau naikkan harga. Biarpun harga berasnya mahal, tetap jual segitu. Paling saya kurangi takaran porsinya sedikit, harganya tetap Rp 13 ribu per porsi,”pungkas Arif. (hgn/gus)








