Saat kebanyakan anak seusianya sudah kembali ke pelukan keluarga untuk menjalani Ramadan, puluhan santri kelas akhir Pondok Pesantren Al-Marhamah Putra, Sampit yang masih setia tinggal di pondok.
YUNI PRATIWI ISKANDAR, Sampit | radarsampit.com
Kebijakan untuk tetap tinggal sudah menjadi peraturan pondok, d imana pada Minggu pertama Ramadan, mereka memang diwajibkan bertahan untuk memperdalam ilmu pendidikan agama. Pasalnya, tak lama lagi mereka akan melaksanakan ujian akhir, sambil menikmati bulan suci dengan penuh kekhusyukan di bawah bimbingan para ustaz.
Di tengah sunyinya Jalan Cilik Riwut km 8, rutinitas di pondok tetap berjalan seperti biasa. Hanya saja, suasananya kini lebih hening.
Santri kelas 7 hingga 11 telah lebih dulu dipulangkan sejak 26 Februari lalu, menyisakan 21 santri kelas 12 Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Al-Marhamah dan 39 santri kelas 9 Madrasah Tsanawiyah Swasta (MtsS) Al – Marhamah. Ditambah 12 anak panti asuhan yang juga menjadi bagian keluarga besar Al-Marhamah.
”Insya Allah, tanggal 10 Maret nanti mereka baru pulang. Jadi, Ramadan awal ini memang kami jalani bersama dulu di sini,” ujar Ustaz Abdul Rahman, pengajar di pondok pesantren tersebut.
Ramadan bagi para santri bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Di Pondok Al-Marhamah, bulan suci ini menjadi momentum memperdalam ilmu agama. Pelajaran akademik untuk sementara digantikan dengan pengajian, tadarus, hingga ta’lim bersama ustaz.
”Setelah subuh, para santri halaqah mengaji, lalu dilanjutkan ta’lim. Malamnya selepas Tarawih, kemudian tadarusan bersama di masjid pondok,” tuturnya.
Menu buka puasa pun sederhana, tapi penuh makna. Bubur hangat, semangka segar, kurma manis, dan gorengan jadi pelepas dahaga setelah seharian berpuasa.
Setelah Magrib berjemaah, barulah mereka menyantap makan malam bersama-sama, menguatkan rasa kekeluargaan yang makin terasa erat meski jauh dari orang tua.
Tak ada keluhan dari para santri soal menu sahur dan berbuka. “Alhamdulillah, semua tercukupi. Mungkin bukan hidangan mewah, tapi selalu penuh berkah,” tambah Abdul Rahman.
Pihak pondok pun menerima dengan tangan terbuka apabila ada donatur yang memberikan makanan ataupun minuman untuk para santri berbuka puasa.
Kehidupan santri di bulan Ramadan ini sejatinya tidak jauh berbeda dari hari-hari biasanya. Mereka tetap dibangunkan pukul 03.00 WIB untuk salat malam dan sahur.
Lalu, selepas Subuh, kegiatan mengaji kembali dimulai. Bahkan pada Jumat pagi, mereka menambah dengan pembacaan Dalail Khairat. Sedangkan setiap malam Senin dan Rabu, pondok dihangatkan dengan lantunan Burdah dan Maulid Habsyi, tradisi yang terus dijaga untuk menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Uniknya, meski berada di pondok, para santri tetap disiplin dengan kewajiban berbahasa Arab setiap hari Jumat. Ini menjadi salah satu ciri khas Al-Marhamah dalam menjaga atmosfer belajar tetap hidup, meski di tengah Ramadan.
Sementara itu, bagi santri yang sudah lebih dulu pulang, kegiatan belajar tetap berjalan daring. Mereka mengikuti pengajian online dan wajib mengisi lembar monitoring aktivitas Ramadan yang dipantau langsung oleh orang tua masing-masing.
”Rindu sih pasti sama keluarga, apalagi saat sahur atau buka puasa. Tapi ini juga momen spesial. Gak semua orang bisa merasakan Ramadan terakhir di pondok sebelum lulus,” ucap Luthfi, salah satu santri di pondok tersebut.
Ramadan tahun ini menjadi kenangan tersendiri bagi para santri kelas akhir Al-Marhamah. Ramadan yang mungkin terasa sepi, namun penuh arti. Ramadan terakhir sebelum melepas status sebagai santri, sebelum mereka melanjutkan pendidikan di luar pondok atau kembali pulang dan mengabdi di masyarakat.








