Jadi Mangsa Segar Muncikari

Membongkar Praktik Perdagangan Manusia di Kotim (2)

Impitan ekonomi jadi faktor utama para perempuan penghibur rela menjajakan diri. Mereka dengan mudah dimangsa muncikari. Jadi pengumpul pundi uang dari bisnis pelacuran.

LIPUTAN KHUSUS, radarsampit.com

Bacaan Lainnya

Aroma perayaan hari kemerdekaan mulai terasa ketika Radar Sampit memasuki kawasan Kelurahan Pasir Putih, sekitar pertengahan Agustus lalu. Meski matahari sudah terbenam, eks lokalisasi yang dikenal dengan sebutan Pal 12 itu masih ramai.

Malam itu, sejumlah warga setempat berkumpul di sebuah bangunan yang biasa dipakai sebagai tempat Posyandu. Pertandingan yang digelar dalam rangka peringatan HUT RI ke – 77 tersebut menyedot perhatian mereka.

Di balik keramaian tersebut, Radar Sampit mendapati sejumlah pekerja seks komersial (PSK), baik tua maupun muda, sedang menjajakan diri. Mereka tersebar di sejumlah titik.

Radar Sampit mencatat ada 12 titik yang menjadi tempat berkumpulnya para wanita penghibur tersebut. Sebagian besar perempuan berpakaian mini itu merupakan perantau dari Jawa.

Setelah menyusuri sejumlah jalur yang menyediakan layanan kenikmatan, Radar Sampit berhenti di sebuah rumah yang menjajakan berbagai minuman. Lokasinya berada di jalur I. Ada dua perempuan yang sedang duduk menunggu pelanggan.

Baca Juga :  Modal Tak Kembali, Belasan Pedagang Pasar Ramadan Berhenti Berjualan

”Kopi mas,” kata salah seorang wanita itu kepada Radar Sampit. Tawaran itu langsung diterima.

Tak lama, segelas kopi panas tiba di meja. Dari perbincangan dengan para wanita itu, mereka mengaku berasal dari Bandung, Jawa Barat. Ada belasan wanita lainnya yang juga berasal dari tempat yang sama.

”Iya, mas. Kami semua dari Bandung,” kata salah seorang wanita penghibur yang mengaku baru berusia 22 tahun itu.

Setelah mengobrol cukup lama, tanpa basa-basi lagi, wanita itu mengungkap tarif yang harus dikeluarkan jika ingin menggunakan ”jasanya”. Untuk berhubungan badan dengannya dibanderol sebesar Rp 400 ribu dengan durasi tidak lebih dari satu jam.

”Kalau servisnya gak diragukan lagi. Mas pasti suka,” ujarnya sambil menggoda.

Radar Sampit tak langsung menyambut tawaran tersebut. Setelah menolak secara halus, Radar Sampit beralih ke tempat lainnya untuk menggali informasi lebih dalam terkait bisnis esek-esek tersebut. Terutama praktik perdagangan manusia yang dilakukan dengan menjebak para korbannya.

Pos terkait