Pria uzur di Sampit yang sempat viral melalui aksinya berdiri di atas motor ternyata seorang master catur. Dia menjadi salah satu pemain yang meraih medali emas dalam ajang Pekan Olahraga Kabupaten (Porkab) Kotawaringin Timur (Kotim) 2022.
HENY, SAMPIT
Wajah datar dengan senyum seadanya. Itulah yang terlihat saat namanya dipanggil meraih medali emas dalam pertandingan cabang olahraga (cabor) catur pada Porkab Kotim yang diadakan pekan ini.
Tak ada ekspresi yang begitu menggembirakan dalam bingkai wajahnya. Pria bertubuh cungkring itu melangkah perlahan. Tak lupa dia mengacungkan dua jari, pose andalan yang sering diperagakan pria berjenggot putih ketika fotonya dibidik kamera.
Pria bernama Supian Hasyim itu sebelumnya dikenal publik dengan sebutan kai atau kakek viral. Sosoknya populer ketika warganet merekam aksinya di jalan raya sedang berkendara dengan posisi berdiri sambil melepas kedua tangan, tanpa helm, dan alat keselamatan.
Satlantas Polres Kotim ketika itu mengamankan dan menahan kendaraan yang biasa digunakannya untuk freestyle menggunakan motor bebek.
Dalam Porkab Kotim 2022 Cabor Catur, Supian Hasyim meraih medali emas kategori catur cepat. Dia juga meraih medali perunggu catur beregu. Namanya terdaftar sebagai pecatur dari Kecamatan Telawang.
Ketika ditanya Radar Sampit, apa strategi kemenangan catur yang mengantarkannya menjadi juara. Jawabannya begitu mengherankan.
”Saya bisa menang ini karena ‘lolos lubang jarum’ saja. Karena keberuntungan berpihak kepada saya. Sebenarnya saya sudah mengira tinggal selangkah lagi saya kalah, ternyata ada saja jalannya saya bisa menang,” ujar pria kelahiran Sampit, 6 Juni 1961 yang baru saja bertambah usia ke-61 tahun Senin kemarin ini.
Supian mengaku sempat ketiduran dan terlambat setengah jam mengikuti pertandingan. ”Saya bangun subuh, terus pulang dari pasar ketiduran, jadi ada pertandingan yang terlewat,” ujarnya.
Bakat terpendam sebagai seorang pecatur sudah terlihat sejak usianya masih kanak-kanak. Ketika itu Supian Hasyim masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar (SD), sekitar tahun 1973.
”Ya, awalnya coba-coba saja. Tak ada yang mengajari. Mulai masuk SMP belajar teori dan strategi catur, dari remaja itu saya mulai serius rutin berlatih catur,” kata pria lulusan MTSN 1 Sampit Alumni Tahun 1980 ini.
Untuk pertama kali di tahun 1997, Supian Hasyim memberanikan diri mengikuti ajang kejuaraan daerah (kejurda) di Kalteng.
”Waktu itu saya gagal. Tahun 2000 ikut lagi Kejurda di Buntok, ya lumayan ada peningkatan dapat juara 6,” ujarnya usai penyerahan medali, Minggu (5/6).
Kemampuannya dalam mengambil dan menentukan langkah bidak semakin menunjukkan progress yang baik. Pada tahun-tahun berikutnya, dia berhasil meraih juara 5 dalam ajang Kejurnas di Semarang dan beberapa kali juara di Porprov. Meskipun tak sampai meraih juara umum.
”Tahunnya kapan saya sudah lupa. Saya sudah lama enggak aktif bertanding, ya baru dua tahun terakhir ini aja ikut lagi. Dulu saya ini pemain yang terdaftar di Sukamara, sekarang sudah di Sampit,” ujar pecatur bergelar Master Percasi ini.
Dalam kehidupan sehari-hari, Supian bekerja serabutan. Kadang menjadi tukang ojek, buruh angkut, dan kadang menikmati hidup dengan bersantai di rumah. ”Kerja serabutan aja. Kalau ada orang yang minta tolong, saya bantu,” ujarnya.
Supian mengaku hidup di Kota Sampit sebatang kara. Istrinya sudah lama meninggal. Putra satu-satunya sudah berkeluarga dan menetap di Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kotim.
”Kadang-kadang menjenguk saya ke Sampit. Di sini sendiri saja. Ibu saya masih hidup, ada di Lamandau sana,” ujarnya.








