Ketika Pemerintah Belum Sanggup Akomodir Semua Pembangunan

Jembatan Terdampak Proyek Drainase, Warga Swadaya Bangun Jembatan Baru

Anggaran pemerintah yang terbatas membuat pelaksanaan pembangunan tak bisa merata
SWADAYA: Warga bergotong royong membangun jembatan yang menghubungkan Jalan Pramuka dan Jalan Menteng 2 Sampit di RT 38/RW 14, Kamis (31/3). (IST/RADAR SAMPIT)

Anggaran pemerintah yang terbatas membuat pelaksanaan pembangunan tak bisa merata. Kondisi demikian ”memaksa” warga bergotong royong secara swadaya membangun fasilitas untuk kepentingan bersama.

=====

Bacaan Lainnya

Warga di Kelurahan Sawahan, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur, hanya bisa menyaksikan ketika sebuah jembatan di wilayah itu tiba-tiba dibongkar. Pembongkaran dilakukan karena jembatan tersebut berada pada jalur proyek pembangunan drainase yang sedang dilakukan Pemkab Kotim.

Meski keberadaan jembatan tersebut sangat penting, yakni menghubungkan Jalan Pramuka dan Jalan Menteng 2 di RT 38/RW 14, warga tak bisa protes. Pun ketika pelaksana proyek menegaskan tidak ada ganti rugi untuk jembatan yang dibangun secara swadaya dengan bahan kayu tersebut.

Proyek drainase yang berimbas pada dibongkarnya jembatan di wilayah itu, merupakan lanjutan kegiatan tahun 2021 lalu. Pembangunan drainase tersebut menelan anggaran sekitar Rp 18 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Baca Juga :  Jembatan Mak Jambek Hanya Ditambal Sulam

Tak ingin meratapi nasib, warga RT 38 langsung melaksanakan musyawarah. Hingga akhirnya menyepakati pembangunan jembatan yang lagi-lagi secara swadaya tanpa harus menunggu ‘perhatian’ pemerintah.

”Pembangunan jembatan ini merupakan kesepakatan warga. Jembatan ini salah satu akses utama warga di kami,” kata Ketua RT 38/RW 14, Muhammad, Kamis (31/3).

Dia menuturkan, pihaknya memang sengaja membangun infastruktur tersebut swadaya, karena sifatnya yang mendesak. Warga tak bisa menunggu lebih lama apabila harus melalui proses musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang). Itu pun belum tentu disetujui dan tak bisa langsung direalisasikan.

”Alhamdulillah, warga kami kompak dan selalu menjaga semangat gotong royong untuk kenyamanan bersama,” kata Muhammad. Dia menambahkan, kerusakan beberapa titik di jalan lingkungan RT juga kerap diperbaiki warga secara swadaya.

Pos terkait