Lebaran Makin Dekat, Pembuat Kue Kering Kebanjiran Order

kiri 2
Mitta Sari (Kanan) sedang mengoles nastar jambu klasik untuk pesanan Lebaran, dalam pembuatan nastar ini Mitta dibantu ibu dan temannya. (YUNI/RADAR SAMPIT)

SAMPIT, radarsampit.com – Menjelang Lebaran, para pembuat aneka kue kering mulai kebanjiran pesanan. Seperti halnya Mitta Sari, warga Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Pesanan kue kering dari para pelanggannya sudah memulai ramai sejak awal Ramadan.

“Dari awal puasa sudah banyak yang pesan,” ujar Mitta, yang menggunakan nama sendiri sebagai merk dagang dari kue kering yang diproduksinya.

Bacaan Lainnya

Dibantu orangtuanya, Mitta memulai bisnis kue kering sejak 2018. Bisnis kue kering yang digelutinya hingga saat ini didasari dari keinginan untuk membantu ekonomi keluarga. Melihat potensi yang dia miliki, Mitta yakin usahanya bisa berjalan meskipun dalam skala kecil.

“Terlintas ide ketika ekonomi keluarga kurang, kenapa tidak memanfaatkan potensi yang ada ini berjualan kue kering untuk dijadikan pemasukan,” tuturnya.

Mitra bersyukur, meski usahanya berawal dari mulut ke mulut, namun respon masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya cukup baik. Dia  mulai memasarkan produknya melalui media sosial. Diapun rajin membuat postingan produknya yang di share ke status WhatsApp (WA).

“Alhamdulillah mendapat respon yang cukup baik. Saya pikir orang saja bisa jual baju online, kenapa tidak coba untuk jual kue. Awalnya cuma coba-coba jadi keterusan sampai sekarang,” sebutnya.

Tadinya kebiasaan Mitta mengolah aneka kue kering mulai dari nastar, putri salju, semprit, thumbprint, kue kacang, lidah kucing hanya untuk konsumsi sendiri belum dikomersialkan.

“Tetangga kanan kiri pas mencoba banyak yang bilang enak. Akhirnya dari mulut ke mulut ada yang pesan, Alhamdulillah bertambah terus pesanan. Tapi memang tujuan awalnya memulai bisnis ini untuk membantu ekonomi keluarga,” tuturnya.

Momen Lebaran tahun ini, Mitta memulai dengan modal sekitar Rp 2,5 juta. Modal tersebut bisa saja bertambah seiring dengan banyaknya pesanan yang biasanya datang mendekati Lebaran.

Untuk membuat kue nastar dirinya juga membuat selai nanas sendiri, mulai dari memarut hingga menjadi selai untuk isian nanas. Hingga saat ini dia sudah menghabiskan sekitar 30 buah nanas.

“Kalau untungnya sekitar 30 persen dari modal,” ucapnya.

Mitta dibantu orangtuanya, sudah menerima pesanan 100 kilogram kue kering aneka jenis. Nastar dan putri salju menjadi kue kering yang paling banyak dipesan oleh pelanggan.

“Nastar klasik saja pesanan 20 kilogram. Biasanya seminggu sebelum Lebaran sudah close order, karena tenaganya enggak sanggup lagi terima dekat-dekat Lebaran. Tahun kemarin dipaksakan sampai sakit kelelahan. Jadi tahun ini dibatasi juga semampunya saja,” ungkapnya.

Mitta biasa memulai mengolah kue kering setelah sahur hingga maghrib. Harga kue kering yang dia jual sangat beragam. Misalnya aneka nastar dijual  berkisar Rp 115 ribu Rp 120 ribu. Putri salju dan tumbrint Rp 110 ribu.

Masing-masing untuk toples bening ukuran 1/2 kilogram. “Pernah dititipkan ke toko-toko tapi karena banyak dan harga bersaing akhirnya memasarkan sendiri saja,” ucapnya.

Menurutnya, kue kering yang diproduksinya kebanyakan mengikuti selera konsumen. Pelanggan banyak datang dari wilayah perkebunan.

“Pesanan sawitan lumayan banyak. Ada reseller yang bawa kesana, sekali bawa 30 toples habis,” tuturnya.

Kue kering dibuatnya setiap momen hari besar seperti Lebaran dan Natal. Mengikuti trand saat ini Mitta juga mulai mencoba membuat hampers.

Menurut pemesanan kue kering tahun ini meningkat dari tahun kemarin. Pada saat pandemi Covid-19, bisnis kue kering Mitta Sari juga turut terdampak. Kini usaha mulai kembali menggeliat.

Selain kue kering, Mitta juga mulai mencoba membuat setrup klasik (syirup) pandan untuk dikomersilkan. Ukiran 300 ml dia coba pasarkan dengan harga Rp 15 ribu.

Pos terkait