Makam Pahlawan Minun Dehen Jadi Aset Sejarah

Tumbang Samba, Kota Pahlawan di Kabupaten Katingan

Pahlawan Katingan,Makam Pahlawan Minun Dehen
IKON: Makam Pahlawan Minun Dehen di Tumbang Samba menjadi aset sejarah di Kabupaten Katingan. Pembangunan makam diresmikan Bupati Katingan Sakariyas, Kamis (24/3).

Kota Pahlawan tak hanya dimiliki Surabaya. Pemerintah Kabupaten Katingan juga punya Kota Pahlawan yang berlokasi di Tumbang Samba, Kecamatan Katingan Tengah.

TERIKNYA panas matahari bukan halangan bagi rombongan Pemerintah Kabupaten Katingan untuk mengunjungi Makam Minun Dehen di Desa Samba Danum, Kecamatan Katingan Tengah, Kamis (24/3). Agenda utama rombongan yang dipimpin Bupati Katingan Sakariyas adalah meresmikan hasil pembangunan atau pemugaran makam Minun Dehen.

Bacaan Lainnya

“Mari meneladani nilai-nilai perjuangan pahlawan dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara,” tutur Sakariyas di Katingan Tengah.

Sakariyas juga meminta semua camat melakukan pendataan keberadaan jumlah pahlawan di wilayahnya masing-masing. Ia mengingatkan semua kepala wilayah jangan sampai melupakan jasa para pejuang.

“Saya berharap camat melakukan pendataan yang selanjutnya disampaikan kepada dinas sosial untuk ditindaklanjuti,” kata Sakariyas.

Dalam kesempatan tersebut, Camat Katingan Tengah Yobie Sandra menceritakan bahwa Minun Dehen adalah putra Dayak Kalimantan Tengah yang gugur dalam perang mempertahankan kemerdekaan RI di Kalimantan Tengah tahun 1949.

Baca Juga :  Sejumlah Sekolah di Sampit Larang Pelajar Bawa Lato-Lato

“Dikutip dari catatan TT Suan, disebutkan Minun Dehen merupakan salah seorang pejuang anggota Gerakan Revolusi Rakyat Indonesia (GRRI), “ kata Yobie Sandra.

Dikisahkannya bahwa pada Agustus 1949 diperoleh kabar bahwa pasukan KNIL akan melakukan penyerangan di daerah Dayak Besar. Gerakan Revolusi Rakyat Indonesia kemudian memutuskan untuk mengadang pasukan KNIL di ujung jalan ke Tumbang Jalemu di tepi Danau Mare yang masuk wilayah Desa Samba Bakumpai, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan.

“Kemudian dipilihlah 70 orang untuk bergabung dalam Gerakan Revolusi Rakyat Indonesia untuk bertempur. Sebelum berangkat, terlebih dahulu diadakan upacara Adat Dayak Manajah Antang,” sebut Yobie Sandra.

Kapten I Samudin Aman yang juga seorang basir pemimpin adat dayak mengelilingi barisan sebanyak tiga kali. Samudin kemudian mendekati pemuda yang baru ikut dari Sungai Dahuyan, yaitu Minun Dehen. Dia memintanya agar keluar dari barisan dan melarangnya berangkat.

Pos terkait