Makam Tua di Masjid At Taqwa Jadi Bukti Sejarah Masuknya Islam di Kotim

Jelajah Masjid di Kota Sampit selama Ramadan (14)

Masjid At Taqwa
Masjid At Taqwa termasuk masjid bersejarah di Kabupaten Kotawaringin Timur

Masjid At Taqwa termasuk masjid bersejarah di Kabupaten Kotawaringin Timur. Keberadaan makam tua dengan nisan bercirikan Islam yang sudah ada sebelum masjid ini berdiri 101 tahun silam, menjadi bukti sejarah penyebaran masuknya Islam di Kotim.

HENY, Sampit | radarsampit.com

Bacaan Lainnya

Letak Masjid At Taqwa sebenarnya tak begitu jauh dengan Kota Sampit. Namun, karena terbelah Sungai Mentaya, keberadaan masjid ini tak banyak diketahui masyarakat.

Perjalanan menuju Masjid At Taqwa dilalui Radar Sampit dengan menyeberangi Sungai Mentaya selebar sekitar 400 meter dari Dermaga Sampit menuju Dermaga Mentaya Seberang menggunakan kapal kayu ferry dengan tarif Rp5.000.

Feri beroperasi mulai pukul 06.00-18.30 WIB. Di atas jam 17.00 WIB tarif penyeberangan naik dua kali lipat menjadi Rp10.000.

Sekitar 7 menit, kapal ferry tiba menepi di Dermaga Seranau. Cuaca cerah Sabtu (30/3/2024) sore itu, mendukung perjalanan Radar Sampit menjelajah Masjid At Taqwa yang letaknya di ujung kampung Kelurahan Mentaya Seberang, Kecamatan Seranau.

Masjid At Taqwa
JEJAK SEJARAH: Titin Sumarni, Pengurus Masjid At Taqwa saat menunjukkan makam di Masjid At Taqwa, Kelurahan Mentaya Seberang yang sudah berusia tua, Sabtu (30/3/2024). (HENY/RADAR SAMPIT)

Dari Dermaga Seranau, perjalanan dilanjutkan ke arah selatan menyusuri jalan berupa jembatan yang terbuat dari kayu ulin selebar 1,5 meter. Ribuan papan kayu ulin yang tersusun layaknya jembatan menjadi akses utama menuju Masjid At Taqwa.

Papan ulin yang berumur puluhan tahun juga nampak mengkhawatirkan. Sejumlah titik papan jembatan berlubang. Jalan jembatan tua ini tetap saja ‘dipaksa’ difungsikan, dilindas roda kendaraan lalu lalang setiap saat dan menimbulkan suara berisik berderit.

Baca Juga :  Ada Dua Kasus Besar Sedang Ditangani, Pejabat Utama Kejari Kotim Malah Dimutasi

Sejumlah warga yang rumahnya berada di sisi jembatan juga banyak ditemukan duduk santai di pinggir Jalan Mentaya Seberang Hilir. Menikmati sore, berbincang dengan sanak keluarga dan tetangga terdekat sambil menunggu suara azan magrib, waktu berbuka puasa.

Sekitar 500 meter memacu kendaraan motor dengan laju pelan, Radar Sampit melewati Dermaga bertuliskan “Selamat Datang di Sampit”. Tulisan itu dibaca terbalik karena tulisan mengarah ke barat.

masjid 2
Hadi Norhidayat Ketua Takmir Masjid At Taqwa di Kelurahan Mentaya Seberang

Matahari sore itu juga menyilaukan, menunggu waktu yang tinggal 1,5 jam lagi terbenam di ufuk barat tepatnya di Mentaya Seberang.

Masjid bertipologi masjid sejarah yang dicari-cari akhirnya ketemu. Letaknya di RT 6 RW 2 Kelurahan Mentaya Seberang yang menjadi RT terakhir, sehingga disebut ujung hilir kampung Mentaya Seberang.

Dari tampak depan, bangunan Masjid At Taqwa mengarah ke barat (Kota Sampit). Berada persis di pinggir Sungai Mentaya. Bangunan masjid berukuran 350 meter persegi ini masih berupa kayu yang dicat warna putih dan biru.

Kabarnya, struktur bangunan masjid ini tak pernah dirombak dan masih tetap terjaga keasliannya. Pagar masjid juga masih berupa kayu. Terdapat 6 kubah yang dicat kuning keemasan.

Satu kubah utama berada di tengah atap bangunan, kubah kedua berada di depan tepat posisi mimbar dan empat kubah kecil yang diletakkan di sisi kubah utama dan sisi kanan kiri bangunan masjid.

Memasuki areal dalam masjid, pada plafon dan dinding juga masih berupa kayu bangkirai yang dicat cokelat. Pada bagian tengah dalam ruang masjid terdapat anak tangga yang dulunya diperuntukkan sebagai menara masjid untuk mengumandangkan azan.

Pos terkait