Merasa Kesepian di Tengah Gaya Hidup Modern

Mereka yang Hidup di Tengah Hiruk Pikuk Metropolitan

metropolitan
PARADOKS: Seorang pemuda melepas penat sambil duduk-duduk di area publik kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, pada Kamis (14/3). (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

Kota identik dengan gemerlap lampu, hiburan, bising, dan ramai orang. Namun, penelitian Health Collaborative Center (HCC) menyebutkan bahwa 4 di antara 10 orang yang tinggal di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) justru kesepian.

Indri tinggal di Kabupaten Bogor. Setiap hari dia harus menempuh perjalanan selama dua jam dengan Trans Jakarta untuk menuju tempat kerja. Pulangnya pun, dia harus kembali naik angkutan umum itu selama dua jam.

Bacaan Lainnya

Rutinitas kerja yang menyita waktu tersebut membuat perempuan yang usianya masuk awal 30-an itu terlalu payah memasukkan agenda ketemu teman atau sekadar nongkrong. Namun, seperti itulah gaya hidup modern kaum urban.

“Sebenernya kalau kenalan ya banyak. Ada kolega dan orang-orang yang kenal karena pekerjaan,” kata Indri kepada Jawa Pos (16/3/2024). Namun, yang dia sebutkan itu bukanlah circle teman dekat. Maka, interaksi Indri dengan mereka seperlunya saja.

Jika memang sedang ada kesempatan bertemu dengan teman-teman dekat, Indri juga sering kali tak tega untuk memanfaatkan momen tersebut sebagai sesi curhat atau deep talk.

Baca Juga :  Kepanikan dan Kekagetan Penumpang saat KA Pandalungan Anjlok

Apalagi, menyepakati hari dan waktu ketemuan pun tidak semudah dulu saat beban kerja atau mengurus keluarga belum banyak. Maka, agenda hang out dua kali sebulan selalu dia optimalkan untuk mempererat pertemanan atau meningkatkan kualitas me time. No drama.

Lantas, bagaimana jika hati sedang gundah? Tak adakah teman yang bisa dijangkau untuk sekadar mencurahkan unek-unek? ’’Sering nulis di blog atau buku jurnal. Soalnya kalau cerita juga bingung,” ucapnya.

Kisah seperti Indri jamak ditemui di kota-kota besar. Khususnya, Jabodetabek yang terpapar gaya hidup modern. Akhir tahun lalu, HCC menyurvei masyarakat yang tinggal di Jabodetabek tentang loneliness atau kesepian.

Total ada 1.229 responden yang berpartisipasi dalam survei daring tersebut. Mayoritas responden adalah kaum perempuan, para perantau, belum menikah, dan mereka yang usianya kurang dari 40 tahun.

’’Dari survei ini diketahui bahwa 44 persen warga Jabodetabek kesepian,” kata Ketua HCC dr Ray Wagiu Basrowi pada Selasa (12/3/2024).



Pos terkait