Morat-marit Harga Ayam di Kobar dan Lamandau, Dipengaruhi Gelombang Panas, Kok Bisa?

5 ayam
BARANG MAHAL: Pedagang daging ayam potong di Pasar Palagan Sari, Kelurahan Madurejo, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kobar, Minggu (28/5). (ISTIMEWA/RADAR SAMPIT)

PANGKALAN BUN, radarsampit.com – Harga daging ayam ras (potong) di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) naik signifikan. Selain harga yang terus meroket, masyarakat kesulitan mendapatkannya. Sejumlah faktor menjadi penyebab morat-marit harga tersebut.

Harga daging ayam potong di Pangkalan Bun kini mencapai Rp65 ribu per kilogram, Senin (29/5). Kabid Peternakan Dinas Pertanian Kobar Risanti mengatakan, saat ini daging ayam yang beredar merupakan sisa stok ayam di peternakan.

Bacaan Lainnya

”Peternak baru sepekan ke depan panen. Yang ada saat ini sisa stok mereka sambil menunggu waktu panen. Hal itu yang menyebabkan harga ayam melambung,” jelasnya.

Risanti melanjutkan, masyarakat kesulitan mendapatkan daging ayam. Peternak memotong disesuaikan kebutuhan para pelaku usaha warung makan. Akibatnya, kebutuhan pasar tidak terpenuhi.

Menurutnya, saat ini daging ayam ras yang beredar hanya 800 ekor. Hanya separuh dari jumlah normal setiap hari, yaitu 1.500 ekor yang dikirim ke pedagang.

”Mereka hanya memotong sesuai kebutuhan para pelanggan mereka saja dan kami berkeyakinan sepekan ke depan pasokan akan normal kembali,” ujarnya.

Selain faktor belum panen, lanjutnya, ada beberapa penyebab lain sehingga kebutuhan daging ayam tidak tercukupi, yakni biaya operasional yang tinggi akibat kenaikan harga pakan. Peternak mandiri ayam broiler menunda pengisian kandang dikarenakan kerugian setiap fase pemeliharaan, kerugiannya mencapai 20 – 25 persen dalam 1 siklus pemeliharaan.

Selain itu, faktor pengaruh gelombang panas yang ekstrem, sehingga pertumbuhan ayam mengalami keterlambatan, kualitas day old cick (DOC) yang datang dari suplier kurang bagus, serta perbedaan harga tertinggi di kandang hanya Rp30 ribu perkilogram dan di pasaran di atas Rp45 ribu. Harga di enam peternak yang aktif saat ini hanya peternak yang berkerja sama dengan poultryshop dengan sistem sewa kandang.

Dia mengungkapkan, jumlah peternak yang terdampak di kecamatan Arsel ada sebanyak 46 peternak, Kecamatan Pangkalan Lada 27 peternak, Pangkalan Banteng sebanyak 16 peternak, Kumai 39 peternak, Kotawaringin Lama 16 peternak dan Arut Utara ada 3 peternak.

”Jumlah peternak yang mengalami kerugian di enam kecamatan di Kotawaringin Barat totalnya berjumlah 147 peternak,” ujarnya.

Kondisi yang sama terjadi di Kabupaten Lamandau. Harga ayam potong di Kota Nanga Bulik naik dalam beberapa hari terakhir. Harga ayam yang biasanya di kisaran Rp 38-42 ribu/kg, tembus sampai Rp 60-70 ribu/kg.

Salah satu pedagang ayam potong boiler, Mona mengatakan, saat ini stok ayam potong sedang kosong. Bahkan, dari Pangkalan Bun juga tidak ada pasokan ayam.

”Akhirnya, daripada tidak ada ayam sama sekali, saya belinya ayam petelur yang sudah tidak produktif lagi,” katanya.

Akan tetapi, lanjutnya, tidak semua orang menyukai ayam petelur. Sebab, ayam tersebut memiliki berat yang tidak biasa. Setiap ekornya bisa mencapai 4-5 kilogram, sehingga bagi para pemilik warung makan, akan rugi jika membeli ayam yang sangat besar tersebut.

”Teksturnya juga sangat keras, seperti ayam bangkok. Jadi, banyak pelanggan yang datang mau beli ayam akhirnya tidak jadi,” keluhnya.

Hal senada disampaikan salah satu pemilik warung makan, Sri Indawati. Ia mengaku kesulitan mendapatkan ayam, sehingga terpaksa hanya menjual telur dan ikan di warung makannya.

”Kalau harga ayam mahal, kami susah untuk jual lagi. Semoga ini tidak bertahan lama, karena saat ini bukan hari raya, tapi harga sudah naik duluan,” ucapnya.

Terpisah Kepala Dinas Pertanian Dan Perikanan Lamandau Tiryan Kuderon mengaku masih mengumpulkan informasi terkait penyebab kelangkaan ayam potong. Sebab, sebagian besar ayam potong yang beredar di Lamandau masih dipasok dari wilayah kabupaten tetangga. (tyo/mex/sla/ign)

Pos terkait