PANGKALAN BUN – Banjir yang merendam belasan hektare lahan pertanian hortikultura di Desa Kumpai Batu Bawah (KBB), Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) sudah mulai surut.
Kini para petani di desa transmigrasi tertua di Kotawaringin Barat itu hanya bisa tertunduk lesu mendapati berbagai jenis tanaman mereka rusak dan tidak bisa dipanen. Bayang-bayang kerugian terpampang di depan mata.
Desa yang berada di tepi Sungai Arut ini, setiap tahunnya menjadi langganan banjir dari luapan sungai yang mempunyai panjang 250 kilometer dan yang berfungsi untuk pelayaran sepanjang 190 kilometer itu.
Tidak kurang empat bulan lamanya, warga yang mayoritas petani itu baru dapat mengembalikan kondisi ekonomi mereka seperti semula. Karena setelah banjir ini mereka kembali harus mengolah tanahnya, kemudian memasuki masa tanam dan baru bisa panen kembali empat bulan ke depan.
Dalam masa itu, masyarakat tidak punya cadangan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, bantuan banjir yang datang terasa manfaatnya untuk menopang kebutuhan mereka.
Kepala Desa Kumpai Batu Bawah, Kecamatan Arsel, Kabupaten Kotawaringin Barat Bambang Silih Warno mengungkapkan akibat banjir luapan Sungai Arut sebanyak 727 Kepala Keluarga dengan jumlah jiwa mencapai 2300 orang yang terdampak banjir.
Ia menjelaskan bahwa masyarakatnya yang mayoritas berprofesi sebagai petani tersebut paling tidak membutuhkan waktu empat bulan untuk dapat kembali mengelola lahannya. Karena selama satu bulan ini mereka harus membersihkan dan mengolah lagi lahan mereka, kemudian melakukan pembenihan bibit, dan masuk masa tanam dan tiga bulan kemudian baru bisa panen.
“Di sini kita berbeda dengan desa lain yang juga terdampak banjir, karena di desa kami mayoritas penduduknya bercocok tanam sehingga banjir ini membuat warga harus kembali dari awal mengolah lahan pertaniannya, dan membutuhkan waktu 4 bulan sampai panen kembali dan baru bisa mendapatkan hasil,” ungkapnya,Sabtu (25/9).
Selain kawasan pertanian yang terdampak, banjir ini mengakibatkan kerusakan pada infrastruktur jalan, sehingga jalan yang dalam posisi rendah seperti di dekat Jembatan Bedara, Jalan Sudirman agar ditinggikan.








