Pasien Cuci Darah di Kotim Meningkat, Daftar Antre Capai Ratusan Orang

Layanan pasien cuci darah di Instalasi Hemodialisa Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Murjani Sampit terus mengalami peningkatan
PELAYANAN: DPJP Ruang Instalasi Hemodialisa RSUD dr Murjani Sampit didampingi dokter pelaksana dan sejumlah perawat usai selesai melayani pasien cuci darah, Rabu (2/3). (HENY/RADAR SAMPIT)

SAMPIT – Layanan pasien cuci darah di Instalasi Hemodialisa Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Murjani Sampit terus mengalami peningkatan. Bahkan, jumlah daftar tunggu antrean pasien masih ada ratusan lebih yang belum terlayani.

Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) Instalasi Hemodialisa RSUD dr Murjani Sampit Paliliewu Novita Angela mengatakan, rata-rata sebulan pihaknya melayani pasien cuci darah di rumah sakit sekitar 300 tindakan. Untuk per hari, layanan pasien reguler termasuk pasien akut maksimal 12-14 pasien.

Bacaan Lainnya

”Desember 2021 lalu ada 328 tindakan pasien yang terlayani di Instalasi Hemodialisa. Data mingguan maupun bulanan ini tidak disebut pasien, karena dalam seminggu pasien yang sama melakukan cuci darah sebanyak dua kali,” kata Novita, Rabu (2/3).

Daftar antrean pasien reguler yang ingin melakukan cuci darah tercatat sebanyak 330 pasien. Untuk capaian pasien yang sudah terlayani sebanyak 192 pasien. Masih ada 138 pasien yang masih menunggu giliran dipanggil.

”Kalau dibanding bulan-bulan berikutnya, layanan cuci darah untuk pasien reguler terus meningkat. Rata-rata 300 tindakan di bulan sebelumnya. Per Februari 2022 ada 311 pasien yang sudah terlayani di rumah sakit,” katanya.

Novita mengatakan, dalam hitungan per bulan selalu ada penambahan pasien baru berkisar 3-6 pasien. Dalam hitungan mingguan, rata-rata bertambah 1-2 pasien baru yang ingin dilayani di RSUD dr Murjani Sampit.

”Tapi, bulan ini kami ada penambahan 15 kasus pasien baru. Februari, pasien yang mendaftar antrean layanan cuci darah meningkat signifikan,” katanya.

Novita menjelaskan, peningkatan kasus pasien cuci darah dapat dipicu karena adanya penyakit penyerta, seperti diabetes melitus dengan kadar gula dalam darah yang tinggi dan tidak terkontrol. Dapat pula disebabkan karena hipertensi.

”Intinya, pasien yang melakukan cuci darah dipicu karena menjalani pola hidup yang kurang sehat. Rata-rata pasien baru yang mendaftar warga Kotim dan ada pasien reguler kami yang berasal dari Seruyan tetap kami layani. Asalkan pasien tergolong akut, tetapi kalau pasien reguler yang kondisi kesehatannya dapat dikatakan stabil, kami anjurkan rujuk ke fasilitas kesehatan lain, seperti rumah sakit di Palangka Raya, Kapuas, Pangkalan Bun, atau Banjarmasin,” katanya.

Novita menuturkan, pasien terpaksa harus mengantre menunggu giliran, karena mesin cuci darah belum siap digunakan. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk operasionalnya.

”Satu mesin satu orang. Nyawa mereka ya di situ. Meskipun ada unsur kedekatan sekalipun, saya sebagai dokter tetap melayani pasien sesuai standar prosedur, sesuai nomor antrean. Tak ada pasien yang mau menggeser giliran? Jadi, solusinya, kami tetap menerima pasien baru sesuai antrean. Pasien yang akut kami lakukan perawatan intensif sampai kondisi kesehatannya stabil. Setelah stabil, pasien diarahkan rujukan ke faskes lain, sehingga ketika sudah sampai gilirannya, pasien baru kami telepon dan mereka tetap bisa kami layani,” katanya.

Lebih lanjut Novita mengatakan, saat ini RSUD dr Murjani Sampit memiliki 22 unit mesin cuci darah dengan merk Toray TR 8000 dan Gambro AK 98. Namun, mesin yang beroperasi hanya tujuh. Lima mesin untuk menangani pasien reguler, satu mesin menangani pasien cuci darah dalam keadaan Covid-19, dan satu mesin lain untuk berjaga-jaga menangani pasien akut.

Mesin cuci darah lainnya belum dapat digunakan karena masih menunggu visitasi dan penilaian dari Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) Cabang Jawa Timur.

”Untuk membuka layanan baru ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, salah satunya visitasi dan penilaian dari Pernefri dan kemudan mengurus izin membuka layanan dari Dinkes Kotim. Saat ini kami sedang berproses pindah layanan hemodialisa ke gedung rumah sakit yang baru. Kami sudah siap divisitasi untuk dilakukan penilaian,” kata Novita.

Pos terkait