SAMPIT, radarsampit.com – Terjadinya peningkatan kasus Human Immunodefieciency Virus (HIV) Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Kotim.
Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kotim sebagai kepanjangan tangan dari Pemkab Kotim dalam penanganan dan penanggulangan AIDS sudah merencanakan untuk melakukan sosialisasi dan tes pemeriksaan HIV AIDS yang menyasar ke perusahaan-perusahan tertentu yang terlacak atau terdeteksi ditemukanan kasus positif HIV AIDS.
“Kenapa sasaran sosialisasi dan tes pemeriksaan HIV direncanakan di perusahaan, karena berdasarkan data Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) yang terdeteksi positif terkena HIV itu ada ditemukan di perusahaan-perusahaan tertentu karena itu kami lakukan sosialisasi dan pemeriksaan tes HIV di lokasi-lokasi yang terlacak ditemukan orang positif HIV,” kata Irawati, Wakil Bupati Kotim yang juga sebagai Ketua KPAD Kotim saat berkunjung ke Kantor Radar Sampit, Sabtu (16/3/2024).
Dalam kegiatan sosialisasi dan tes pemeriksaan HIV AIDS ini, rencananya KPAD Kotim akan melibatkan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kotim, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim dan didampingi aparat kepolisian.
“Insha Allah sosialiasi akan dijadwalkan setelah Lebaran nanti. Kalau pun misalnya anggaran dari KPAD belum cair untuk kegiatan operasional ini, KPAD tetap bisa melakukan sosialiasi berbarengan dengan kegiatan Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Kotim untuk melakukan tes HIV dan tes narkoba secara bersamaan,” ucap Irawati yang juga aktif sebagai Ketua BNK Kotim.
Saat rapat pembahasan teknis anggaran dan program kerja KPAD bersama Dinkes dan instansi terkait penanganan kasus HIV AIDS, Kamis (14/3/2024) lalu, Irawati cukup perihatin mengetahui data terjadinya peningkatan kasus HIV AIDS pada tahun 2024 ini.
“Saya panggil rapat di ruang kerja saya beberapa hari lalu untuk membahas anggaran dan program kerja. Ternyata kasus HIV AIDS dari tahun 2023 dan terakhir Februari 2024 ini ada 91 orang yang terkena HIV AIDS. Yang membuat kita sangat prihatin, diantara beberapa kasus itu terjangkit HIV AIDS dari penyuka sesama jenis, Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) dan ini cukup sulit mendeteksinya, kalau bencong atau wanita setengah pria (waria) kan mudah kita mendeteksinya, kalau hubungan sesama jenis ini yang sulit kita mendeteksinya,” ujarnya.
Berdasarkan data KPAD Kotim, tahun 2019 kasus HIV AIDS di Kotim berjumlah 77 kasus, tahun 2020 turun menjadi 72 kasus, ditahun 2021 kasus HIV AIDS di Kotim turun menjadi 44 kasus, tahun 2022 56 kasus dan 40 kasus diantaranya berusia produktif. Sedangkan, ditahun 2023 sebanyak 91 kasus.
Untuk diketahui, HIV merupakan virus yang dapat merusak system kekebalan tubuh dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4. Apabila sel CD4 mengalami kehancuran, maka dapat mengakibatkan daya tahan tubuh semakin melemah sehingga rentan terserang berbagai penyakit.
Apabila HIV tidak segera ditangani maka virus ini akan menggerogoti tubuh yang dapat membunuh perlahan akibat tubuh penderitanya tidak dapat lagi melawan infeksi hingga mencapai stadium akhir yang menyebabkan AIDS dan mengharuskan pengidap HIV AIDS menelan pil obat setiap hari selama seumur hidup.
“HIV AIDS dapat menyerang segala usia, tetapi kebanyakan orang yang terjangkit HIV AIDS masih berusia produktif. Umumnya, gejala itu baru dirasakan 10 tahun kemudian, kalau baru lima tahun itu sudah menjurus kearah positif HIV AIDS, sehingga pencegahan dan penanganan ini harus terus dilakukan karena ini menyangkut masa depan manusia,” ujar Irawati.








