Perjuangan Devina Yusiana untuk memperoleh kesembuhan dari sakit yang dialaminya sangatlah berat. Hari demi hari, tahun demi tahun pengobatan terus dilakukan. Semangatnya untuk terus hidup belum surut.
HENY, Sampit | radarsampit.com
Wajah cantiknya masih terpancar meski pipinya semakin tirus dan badan tinggal tulang terbalut kulit tanpa daging.
Senyum kesedihan itu tak bisa ia tutupi ketika Radar Sampit mengunjungi rumah kayu di Jalan Nanas II Blok A yang ia tinggali bersama suami, ibu, dan kedua adiknya.
Badannya terbujur kaku tak berdaya meski suaranya masih terdengar lembut ketika Radar Sampit mengajaknya berbincang ringan.
Sri Mulyani (47) Ibu Devina Yusiana menyambut hangat kedatangan Radar Sampit. Hatinya sempat ragu ketika cuaca hujan Minggu (26/1) siang mengguyur Kota Sampit.
”Saya kira tadi tidak jadi datang, karena di luar sedang hujan,” ucap Sri Mulyani mengawali perbincangan kepada Radar Sampit yang sebelumnya sudah dihubungi melalui telepon.
Sri lalu menceritakan perjuangan anak sulungnya, Devina untuk meraih kesembuhan dari sakit yang dialami.
Keluhan sakit itu mulai ia ketahui pada tahun 2018. Telapak kaki sebelah kanan Devina mengalami benjolan. Devina kemudian dibawa ke RSUD dr Murjani Sampit untuk menjalani perawatan dan pengobatan.
”Hasil pemeriksaan dinyatakan luka infeksi, benjolan itu di operasi dan sembuh tidak ada keluhan,” ucap Sri Mulyani.
Tahun 2019, jahitan bekas benjolan di telapak kaki kanan Devina kembali terbuka, sehingga ia harus kembali di rontgem dan menjalani operasi untuk membuang benjolan.
”Tahun 2023, benjolan itu kembali muncul dan semakin besar. Devina trauma dioperasi, kami berusaha mengobati dengan cara meminum akar-akaran selama dua bulam, tetapi tidak ada perubahan, sehingga kami memutuskan membawanya ke RSUD dr Murjani Sampit lagi,” ujarnya.
Hasil pemeriksaan Maret 2023 lalu begitu mengejutkan. Di usianya yang masih 23 tahun kala itu, ia divonis dokter mengalami sarkoma, tumor atau kanker yang muncul pada tulang dan jaringan lunak.
”Hasilnya dokter bilang anak saya terkena kanker kulit, nama medisnya Sarkoma. Sempat dirawat selama seminggu, tidak ada tanda kesembuhan dan dirujuk ke RS Ulin karena CT Scan belum tersedia,” ujarnya.
Setelah melalui pertimbangan dan persiapan dana dan mental, Juli 2023, Devina dirujuk ke RS Ulin menuju Poli Bedah Umum.
Ia harus melewati pemeriksaan awal, cek darah, dan pemeriksaan kesehatan lainnya, meski pemeriksaan kesehatan sudah pernah dilakukan di RSUD dr Murjani Sampit.
Selama tiga bulan, Devina menjalani rawat jalan sehingga harus menyewa kos.
”Selama di sana, Devina di cek darah, rontgen, CT Scan, pemeriksaan sedot cairan di bagian paha karena ada benjolan. Setelah pemeriksaan lengkap baru dirawat inap selama 15 hari,” ujarnya.
Selama rawat inap, Devina dilayani dengan baik, mendapatkan pengobatan infus dan pembersihan dibagian benjolan. Namun, secara fisik kesehatannya tak ada perubahan.
”Saat diperiksa trombositnga tinggi, darah kental, tidak bisa operasi sehingga harus diundur. Akhirnya kami pulang ke barak dan sempat empat bulan di sana,” ujarnya.
Karena kehabisan biaya, Sri memutuskan membawa Devina pulang ke Sampit naik travel.
”Selama di Banjarmasin, suami dan anaknya juga ikut dampingi sampai enggak kerja berbulan-bulan demi mengurus Devina. Saya juga harus bolak-balik, karena juga kerja jadi cleaning service di sekolah,” ucap Sri yang baru menjanda, cerai dengan suaminya selama dua tahun ini.
Pada 2 Desember 2024 lalu, Devina kembali di-rontgen di RSUD dr Murjani Sampit.








