Tak Lapor Gejala Penularan, Nyawa Jadi Taruhan

Empat Warga Isoman di Kotim Meninggal

Ilustrasi. (BAGUS/JAWA POS)

SAMPIT – Kurangnya kesadaran masyarakat melaporkan diri telah terinfeksi Covid-19 di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotin) menjadi salah satu faktor penyebab tingginya angka kematian.

Kepala Bidang Kedararutan dan Logistik BPBD Kotim Yephy Hartady Periwanto yang masuk dalam Tim Satgas Penanganan Covid-19 Kotim mengatakan, masih banyak kasus Covid-19 yang belum terpantau tenaga kesehatan karena banyaknya warga yang terinfeksi Covid-19 maupun pihak keluarga yang bersangkutan tidak melapor ke fasilitas kesehatan terdekat.

Bacaan Lainnya

Dari kasus kematian warga yang menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah yang ditangani Tim Satgas Covid-19, menunjukkan bahwa masih ada pihak keluarga yang merasa tidak percaya dengan penanganan di rumah sakit, sehingga memilih dirawat di rumah.

”Mereka sebenarnya tidak menganggap Covid-19 sebagai aib. Warga yang sakit, pasrah saja dibawa ke rumah sakit. Tetapi, dari pihak keluarga masih ragu dengan penanganan di rumah sakit dan merasa yakin bisa ditangani sendiri di rumah,” kata Yephy.

Informasi itu diketahui setelah ada tetangga yang bersangkutan melapor ke Puskesmas Baamang. Nakes puskesmas lalu mengecek kondisi pasien yang sudah dalam kondisi sesak napas dan berusia 50 tahun ke atas.

”Kasus itu terjadi minggu lalu. Masyarakat yang bukan nakes tidak akan bisa mengetahui, apakah gejala itu sudah mengarah ke sedang atau berat. Dilihat dari gejala, seharusnya pihak keluarga segera membawa ke rumah sakit. Setelah nakes mengecek, gejalanya sudah lumayan berat dan meninggal di rumah,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *