SAMPIT, radarsampit.com – Amukan api yang membakar hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) belum berhenti. Sampai kemarin (15/8), kebakaran masih terjadi di sejumlah lokasi. Tim pemadan harus berjibaku memadamkan bara yang berkobar silih berganti.
Salah satu kebakaran yang terpantau di Gang Hijrah, Jalan Moh Hatta, jalur lingkar selatan, sekitar pukul 09.00 WIB, langsung ditangani tim poslap MB Ketapang. Terdiri dari 5 personel Masyarakat Peduli Api (MPA) MB Ketapang, Balakar Ketapi 4, Manggala Agni, TNI, Polri, dan personel BPBD Kotim.
Di kecamatan yang sama, kebakaran terjadi di lokasi berbeda, yakni Gang Dewi Sartika sekitar pukul 11.00 WIB. Kemudian, di Jalan Ir Soekarno km 6. Api berkobar sekitar 300 meter dari jalan, sehingga armada pemadam tak bisa masuk mendekati titik api. Peristiwa itu tak dapat ditangani tuntas oleh tim pemadam darat.
”Kejadiannya pukul 13.00 WIB. Tim gabungan tetap siaga di sekitar lokasi api menggunakan kendaraan roda dua, karena tidak ada akses masuk menuju titik lokasi, sehingga api sulit dipadamkan. Kebakaran juga terjadi di simpang Kandan, Kecamatan Kotabesi, dekat areal PT NSP yang selama tiga hari ini belum tertangani, karena sulitnya akses masuk titik lokasi,” kata Agus Mulyadi, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kotim.
Belum hilang lelah menghadapi api, tim gabungan pemadam kembali menerima informasi kebakaran di Jalan Wengga Metropolitan. Lokasinya tak jauh dari permukiman.
”Kebakaran lahan sudah merambah sampai dekat permukiman. Sekitar jam tiga sore, tim gabungan pemadam kebakaran turun ke lokasi melakukan pemadaman hingga malam,” katanya.
Berdasarkan informasi BPBD Kotim, per 15 Agustus 2023, 50 titik panas terdeteksi di Kotim. Sebanyak 40 titik di antaranya berada di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan.
”Di sana sudah ada tim Poslap yang siaga. Akses jalan masuk armada tangki dan jauhnya sumber air dari lokasi api menjadi tantangan berat tim pemadam jalur darat untuk memadamkan api. Kami akan mengajukan penanganan water bombing apabila penanganan darat sulit dilakukan,” kata Agus.
Usulan pengajuan bantuan helikopter pengebom air harus disertai foto lokasi kejadian dan titik koordinat. Hal tersebut agar helikopter tepat sasaran dan cepat dalam penanganan karhutla jalur udara.
Terpisah, Kabag Ops Polres Kotim Kompol Samsul Bahri mengatakan, kendala anggota Polri juga dialami seluruh instansi terkait. Kebakaran yang jauh dari sumber air dan sulitnya akses jalur masuk ke titik lokasi api, menjadi kendala terbesar tim gabungan pemadam kebakaran.
”Memang ada beberapa embung yang telah disiapkan dan sumur bor yang dulu merupakan program pemerintah, namun saat ini belum efektif membantu memadamkan api, sehingga personel di lapangan masih mengambil air dari sungai yang lokasinya lumayan jauh. Ditambah lagi susahnya akses jalan menuju titik api, sehingga menyulitkan petugas di lapangan,” kata Samsul.
Dalam upaya pemadaman, Polres Kotim menyiagakan 5-10 personel di setiap kecamatan untuk melakukan pemantauan dan membantu pemadaman api.
”Kami terus memberikan imbauan atau larangan kepada masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar yang rutin disampaikan Bhabinkamtibmas ke setiap warga desanya masing-masing. Kebakaran membuat personel gabungan bekerja ekstra. Tidak kenal waktu. Kebakaran menimbulkan kabut asap yang mengganggu jarak pandang. Belum lagi oksigen yang dihirup tidak lagi menyehatkan. Karena itu, perlu perhatian semua pihak, khususnya masyarakat agar tidak membakar lahan dengan sengaja,” tegasnya. (hgn/ign)








