JAKARTA, radarsampit.com – Pakar kebijakan agrobisnis Departemen Agribisnis IPB Feryanto menuturkan, memang benar saat ini sedang terjadi kelangkaan beras. Khususnya beras kualitas medium. Kalaupun masih tersedia di toko-toko, harganya melonjak dibandingkan bulan lalu.
Berdasar pengamatannya, kelangkaan itu disebabkan pasokan bahan baku beras atau gabah di penggilingan sedang sulit. ’’Penggilingan padi meskipun memiliki stok, tetapi sudah digunakan dan disalurkan,’’ katanya, Sabtu (10/2/2024).
Fery mengatakan, ketika pasokan bahan baku di penggilingan minim, permintaan beras saat ini justru sangat tinggi. Khususnya karena banyak kegiatan bagi-bagi bantuan sosial (bansos) atau bantuan pangan. Kegiatan bagi-bagi bansos pangan itu semakin meningkat di musim politik seperti sekarang. Kontestan pemilu mulai level kabupaten, kota, provinsi, hingga nasional kerap bagi-bagi bansos beras untuk meraih simpati konstituennya.
’’Para caleg, capres, dan partai peserta pemilu ada juga yang mengadakan pasar murah dengan menjual beras medium,’’ katanya. Kegiatan itu biasanya dikemas dalam bentuk bazar. Beras yang digunakan banyak mengambil beras kemasan di minimarket atau toko modern.
Fery mengatakan, gejala bakal terjadinya kelangkaan beras sejatinya sudah muncul beberapa bulan lalu. Tepatnya ketika minimarket dan beberapa supermarket memberlakukan pembatasan pembelian beras maksimal dua kemasan setiap hari. Fery mengatakan, penggunaan beras medium kemasan sebagai bansos kampanye cukup praktis. Tinggal dibagikan saja.
Dia lantas menjelaskan, kelangkaan beras diperkirakan mulai teratasi pada Maret depan. ’’Bila melihat kalender tanam padi di Indonesia, idealnya musim padi akan dimulai pada Maret,’’ tuturnya. Tetapi, masyarakat perlu memperhatikan juga dampak fenomena El Nino yang terjadi sepanjang 2023 lalu. Di antara dampak El Nino itu adalah musim panen bakal mundur menjadi sekitar April atau Mei. Pasalnya, El Nino membuat masa tanam terpaksa mundur.
Jadi, meski pada April dan Mei nanti sudah masuk musim panen, harga beras di pasaran bakal tetap tinggi. Dia berharap pemerintah bisa melakukan antisipasi dan identifikasi. Khususnya pemetaan daerah yang bisa panen awal. Kemudian, memaksimalkan penyerapan di lapangan.
Fery menegaskan bahwa beras medium dan premium sejatinya adalah beras yang dihasilkan penggilingan-penggilingan. Kemudian, beras tersebut dijual dalam bentuk kemasan. Maka ketika pasokan bahan baku dari petani sudah melimpah, stok di penggilingan juga ikut meningkat. Jadi, kelangkaan tidak terus terjadi.
Seperti diketahui, sekitar tiga hari terakhir, minimarket di kawasan Jabodetabek sudah tidak menjual beras premium atau medium dalam kemasan 5 kg. Sementara itu, harga beras di toko beras naik lumayan tinggi. Sudah tidak ditemukan beras dengan harga Rp 10 ribu atau Rp 11 ribu per liter. Rata-rata beras dijual di harga Rp 13 ribu atau lebih per liter. (wan/c6/oni)







