DPRD Kotim Pertanyakan Keseriusan Pemkab untuk Benahi Bandara Haji Asan Sampit

bandara sampit
Bandara H Asan Sampit

SAMPIT, radarsampit.com – Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Handoyo J Wibowo mempertanyakan keseriusan Pemkab Kotim membenahi Bandara Haji Asan Sampit. Pasalnya, jika kondisi sekarang terus dibiarkan, Kotim akan semakin tertinggal dari daerah lainnya.

”Bisa dikatakan saat ini Bandara Haji Asan ini sudah mulai ditinggal masyarakat dan penggunanya. Pertama karena jadwal pesawat yang belum stabil. Ditambah lagi harga tiket dari Sampit cukup mahal dibandingkan dengan Pangkalan Bun,” kata Handoyo, kemarin (17/5).

Bacaan Lainnya

Menurutnya, persoalan itu merupakan hal serius yang harusnya diselesaikan Pemkab Kotim dan pihak bandara. Namun, sejauh ini tidak ada progres sama sekali. Termasuk rencana perluasan bandara yang dicanangkan sejak lima tahun lalu, hingga kini belum ada titik terangnya.

”Harus dicari solusinya, apa yang jadi penyebab kondisi bandara kita seperti sekarang ini. Bagaikan hidup segan mati tak mau. Kalau mau jujur, pengguna jasa di Bandara Pangkalan Bun dan Palangka Raya itu sebenarnya banyak dari wilayah Kotim,” ujarnya.

Baca Juga :  Sempat Kekurangan Dana, Pembangunan Masjid Nurul Ikram Habiskan Rp5 Miliar Lebih

Dia mencontohkan tiket dari Sampit-Jakarta saat ini di harga Rp1,2 juta, sedangkan dari Bandara Pangkalan Bun-Jakarta hanya Rp700 ribu. Disparitas harga tersebut membuat Bandara Haji Asan akan sulit mendapatkan penumpang dari wilayahnya sendiri.

Sementara itu, Pemkab Kotim terus memperjuangkan perpanjangan landasan pacu Bandara Haji Asan Sampit agar bisa didarati pesawat berbadan besar. Salah satunya dengan melakukan pembebasan lahan.

Harapannya, banyak maskapai yang melirik dan pada akhirnya harga tiket penerbangan lebih bersaing. Saat ini status lahan sudah dibebaskan, tinggal Kementerian Perhubungan di Jakarta yang selanjutnya membangun perpanjangan landasan.

Asisten I Setda Kotim Bidang Pemerintahan Rihel mengatakan, lahan di sekitar bandara yang telah dibebaskan ada sekitar 8,3 hektare. Saat ini tengah proses sertifikasi.

Namun, untuk hibah yang diserahkan ke pihak Bandara Haji Asan Sampit nantinya seluas 5 hektare. Hal itu dinilai cukup untuk keperluan perpanjangan landasan.



Pos terkait