Kebun Terendam, Petani Sampit Terancam Gagal Panen

terancam gagal panen
TERGENANG: Hujan deras yang mengguyur Kota Sampit, Minggu (3/12), menyebabkan lahan tanaman warga tergenang air. (YUNI/RADAR SAMPIT)

SAMPIT, radarsampit.com – Hujan deras yang mengguyur Sampit beberapa hari lalu berdampak terhadap lahan pertanian. Kebun sayur dan jagung saat ini masih tergenang sehingga terancam gagal panen.

Munir, salah satu warga Jalan Teratai IV, Sampit,  mengatakan bahwa dampak dari tergenangnya air di lahan sayur menyebabkan tanaman menjadi rusak. Apalagi jika air tersebut menggenangi lahan hingga 2-3 hari. “Dampaknya kalau terlalu lama misalnya 2-3 hari terendam, bisa busuk akar tanamannya. Tapi kalau cuman sehari saja tidak,” ujar Munir.

Bacaan Lainnya

Tanaman sawi menjadi salah satu tanaman yang mengalami kerusakan cukup parah, sehingga tanaman tersebut gagal panen.  “Sawi rusak gara-gara terendam air. Dan itu sudah tidak bisa diselamatkan lagi,” sebutnya.

Sedangkan tanaman jagung, meskipun terendam air masih bisa bertahan asalkan tidak terjadi hujan deras lagi. “Kalau jagung agak bertahan, walaupun terendam tiga hari masih bisa bertahan,” tuturnya.

Pascahujan deras, warga yang bertani akan menabur kapur atau dolomit pada tanaman mereka. Hal ini diyakini untuk menetralkan kandungan asam pada tanah agar tanaman tidak menguning. “Kalau habis hujan itu biasanya ditaburi kapur fungsinya supaya tidak kuning. Kalau tidak dikasih kapur setelah hujan, tanaman kuning, dan harus dibuang kalau sudah kuning. Selain kapur, dikasih pupuk urea juga,” terangnya.

Baca Juga :  Sinergi Satreskrim dan Dinas Pertanian Pulpis Cegah Penyimpangan Pupuk Bersubsidi

Hujan deras menyebabkan tanaman di lahan milik warga terendam hampir setinggi lutut orang dewasa. Kerugian besar pun akan dirasakan para petani jika seluruh tanaman gagal panen. “Kalau semua ini mati kerugiannya mungkin sekitar Rp 2 juta, kalau berhasil panen pasti besar untungnya, karena sekarang harganya lagi naik. Apalagi jagung modalnya dulu cukup banyak sekitar Rp 900 ribu,” ungkapnya.

Menurutnya, banjir yang terjadi kali ini terbilang paling parah. Namun petani cukup tertolong karena selokan yang sudah dilebarkan, sehingga air cepat surut. “Kalau dulu sampai empat hati masih banjir,” tuturnya.

Dirinya menduga, banjir terjadi karena pengairan di wilayah tersebut yang masih kurang maksimal, dan lokasi lahannya yang berada di dataran rendah. “Kalau hujan biasa tidak terlalu terdampak. Kalau menyebabkan rusak itu sering kadang hampir setiap bulan,” ucapnya.



Pos terkait