Walau terlahir autis, Marshelina, sang penulis analogi puisi dengan judul ‘Autis dan Puitis’ kini tak lagi dipandang sebelah mata. Dia kini menjadi bintang yang bercahaya dan selalu dipuja. Hidupnya menjadi lebih indah meskipun terlahir berbeda.
YUNI PRATIWI, Radar Sampit
Untuk mengisi kegiatan sehari-hari, selain menulis puisi, membuat syair lagu, quote, dan cerita pendek, Marshelina yang juga pandai memasak berjualan nasi kuning di sekitar Taman Kota Sampit bersama sang kakak, Jainal Abidin. Aktivitas itu itu dimulai sekitar pukul 06.00 WIB. Kadang bisa sampai siang atau sampai nasi kuning jualannya habis.
Nasi kuning yang dia jual sudah dikemas dalam kotak seharga Rp 12 ribu dan dalam bungkus nasi dengan harga Rp 6.000. Selain nasi kuning, ada aneka camilan dan minuman yang dijualnya.
Menariknya, tumpukan buku sampul merah muda berjudul Autis dan Puitis juga terlihat di sudut meja jualannya yang ukurannya tidak begitu besar. Buku itu sengaja diletakkan di sana. Harapannya, masyarakat yang membeli juga tertarik membeli buku analogi puisi karyanya.
Memang belum banyak masyarakat yang tahu buku karyanya. Namun, Marshelina berharap buku kumpulan puisi itu bisa diterima masyarakat luas, sehingga cita-citanya yang ingin menjadi penulis terkenal bisa terwujud.
”Cita-cita saya ingin jadi orang terkenal dan bermanfaat untuk orang lain,” ucapnya.
Selain puisi, Marshelina juga menulis syair lagu. Sudah ada 200 lirik lagu yang dia buat, namun semuanya belum diaransemen. ”Makanya, jual buku dulu baru lagu. Kalau lagu lengkap. Ada tentang ayah dan tentang ibu juga,” imbuhnya.
Selain pernah bertemu Wakil Bupati Kotim Irawati, Marshelina juga telah bertemu orang nomor satu di Kotim. Dalam pertemuan dengan Bupati Kotim Halikinnor, Marshelina menaruh harapan agar pemerintah daerah mendukungnya berkarya.
Meski sang Bupati tidak berucap akan memesan bukunya, Marshelina sangat bersyukur bisa langsung bertemu dan menyerahkan hasil karyanya kepada orang nomor satu di Kotim itu. ”Bupati hanya berpesan, maju terus dalam berkarya,” ucapnya.
Marshelina gemar menulis dan mendengarkan musik sejak di bangku SD. Untuk mengasah kreativitasnya, dia pernah belajar menulis syair lagu di Syuhada Record pada 2011. Pernah belajar puisi daring di bawah naungan WR Academi pada Juli 2020. Juga pernah belajar puisi daring di Asqa Imagination School tahun 2020 dan belajar puisi di kelas kreatif menulis tahun 2021.
Gadis yang tergabung dalam komunitas seniman Sampit itu juga aktif mengikuti antologi puisi dan cerpen bersama sejak Juli 2020, di antaranya Saluton Kaj Bonvenon tahun 2020 dan buku antologi puisi Indonesia-Malaysia Tarian Pena Sahabat Serumpun tahun 2021.
Segudang prestasi juga pernah diraihnya, di antaranya mampu menyelesaikan satu judul syair lagu dalam waktu dua jam dengan tema ditentukan pencipta lagu senior saat ujian belajar menulis syair lagu tahun 2011.
Kemudian, nominasi sepuluh puisi terbaik dalam lomba puisi tema Kangen September 2020, peraih penulis terbaik nasional dari 86 peserta lomba puisi tema rindu tahun 2020, juara 1 dalam challenge membuat fake chat di Golden Event pt.2, serta pernah mendapat predikat juara umum dan penulis terbaik pertama (juara favorit) buku Air Kaca Cinta tahun 2021.
Marshelina berharap dapat mengeluarkan lagi buku puisi tema cinta. Lucunya, ketika Direktur Radar Sampit Siti Fauziah menyinggung tentang kisah cinta-cintaan, dan bertanya apakah Marshelina mempunyai kekasih, sambil tersipu malu Marshelina mengaku banyak memiliki mantan kekasih.








