Kisah Marshelina, Penulis Buku ‘Autis dan Puitis’ (2-Habis)

Tak Lagi Dipandang Sebelah Mata, Mengukir Karya dari Cerita Hidupnya

marshelina berjualan nasi kuning
DAGANG: Dalam kesehariannya saat ini Marshelina berjualan nasi kuning di Taman Kota Sampit, Jumat (5/8).

Walau terlahir autis, Marshelina, sang penulis analogi puisi dengan judul ‘Autis dan Puitis’ kini tak lagi dipandang sebelah mata. Dia kini menjadi bintang yang bercahaya dan selalu dipuja. Hidupnya menjadi lebih indah meskipun terlahir berbeda.

YUNI PRATIWI, Radar Sampit

Bacaan Lainnya

Untuk mengisi kegiatan sehari-hari, selain menulis puisi, membuat syair lagu, quote, dan cerita pendek, Marshelina yang juga pandai memasak berjualan nasi kuning di sekitar Taman Kota Sampit bersama sang kakak, Jainal Abidin. Aktivitas itu itu dimulai sekitar pukul 06.00 WIB. Kadang bisa sampai siang atau sampai nasi kuning jualannya habis.

Nasi kuning yang dia jual sudah dikemas dalam kotak seharga Rp 12 ribu dan dalam bungkus nasi dengan harga Rp 6.000. Selain nasi kuning, ada aneka camilan dan minuman yang dijualnya.

Baca Juga :  Citibank Ditunjuk Menjadi Mitra Distribusi

Menariknya, tumpukan buku sampul merah muda berjudul Autis dan Puitis juga terlihat di sudut meja jualannya yang ukurannya tidak begitu besar. Buku itu sengaja diletakkan di sana. Harapannya, masyarakat yang membeli juga tertarik membeli buku analogi puisi karyanya.

Memang belum banyak masyarakat yang tahu buku karyanya. Namun, Marshelina berharap buku kumpulan puisi itu bisa diterima masyarakat luas, sehingga cita-citanya yang ingin menjadi penulis terkenal bisa terwujud.

”Cita-cita saya ingin jadi orang terkenal dan bermanfaat untuk orang lain,” ucapnya.

Selain puisi, Marshelina juga menulis syair lagu. Sudah ada 200 lirik lagu yang dia buat, namun semuanya belum diaransemen. ”Makanya, jual buku dulu baru lagu. Kalau lagu lengkap. Ada tentang ayah dan tentang ibu juga,” imbuhnya.

Pos terkait