Kisah Nenak Isah, Satu-satunya Warga di Danau Bejawak, Palangka Raya

Terlalu Banyak Kenangan, Bahagia Hidup Sederhana

nenek isah danau bejawak palangka raya
BERSAMA KENANGAN: Nenek Isah (jilbab cokelat) bersama Lurah Marang Yuliati Ningsih dan mahasiswa IAIN Palangka Raya serta Tim Komunitas Kantung Berbagi Senyum saat menyalurkan bantuan dari Pengajian Bank Kalteng dan Komunitas Kantung Berbagi Senyum. (DODI/RADAR SAMPIT)

Dalamnya kenangan membuat Isah (72), enggan meninggalkan Danau Bejawak, Kelurahan Marang, Kecamatan Bukit Batu, Kota Palangka Raya. Meski hidup serbaterbatas, dia bahagia hidup di daerah yang dikenalnya sejak kecil hingga menjelang usia senjanya.

DODI, Palangka Raya

Bacaan Lainnya

Nenek Isah. Demikian wanita renta itu disapa. Dia menjadi satu-satunya warga yang mendiami Danau Bejawak. Lokasi itu terpencil. Perlu waktu 30 menit menggunakan kelotok dari Kelurahan Marang melalui Sungai Rungan.

Isah tak ingin meninggalkan rumah miliknya yang berfondasi kayu dan masih berdiri tegak di Danau Bejawak. Alasannya, dia merasa lebih tenang di lokasi itu, selain rasa rindu dan harta warisan sang suami.

Di dalam rumah itu terdapat dapur sangat sederhana dengan lantai yang berlubang di sana-sini dan tiga kamai. Beberapa bingkai foto keluarga terpasang di dinding. Termasuk poster ulama kharismatik Guru Sekumpul. Ada tiga kamar. Rumah itu dikelilingi berbagai bunga.

Baca Juga :  Pengeroyokan Pelajar Ternyata Belum Damai Sepenuhnya, Keluarga Korban Tuntut Hal Ini

Kawasan itu dulunya padat penduduk. Tahun 1975 banyak berdiri bangunan di atas air dan rumah panggung. Namun, tahun 1990, warga sekitar mulai berpindah ke Marang. Bahkan, di lokasi itu pernah ada taman kanak-kanak. Masyarakat berpindah lantaran ingin mencari pengalaman baru dan rata-rata memiliki profesi sebagai nelayan tradisional.

Wanita kelahiran tahun 1950 ini menuturkan, rumah yang ditempatinya merupakan rumah perjuangan. ”Ini rumah perjuangan bersama suami dan anak-anak. Satu-satunya yang masih tinggal dan menetap di tempat tersebut. Saya dari kecil lupa tahun berapa. Ini sudah puluhan tahun,” ujarnya dengan suara lirih.

Pencinta tanaman ini menuturkan, aktivitas sehari-harinya memancing dan menjala ikan menggunakan perahu. Perahunya sengaja ditenggelamkan agar tidak hilang. Di rumah itu ada dapur sederhana terbuat  dari tanah liat dengan bahan bakar kayu.

”Saya tidak takut sendiri dan memang sudah terbiasa. Penerangan menggunakan lampu teplok,” ujar ibu dari lima orang anak ini.

Isah menambahkan, jika ia rindu dengan anak dan cucu, ada anak yang akan menjemputnya. ”Tergantung saya sendiri. Berpesan akan dijemput. Saya sehari-hari nelayan,” katanya.

Pos terkait