Kisah Nenak Isah, Satu-satunya Warga di Danau Bejawak, Palangka Raya

Terlalu Banyak Kenangan, Bahagia Hidup Sederhana

nenek isah danau bejawak palangka raya
BERSAMA KENANGAN: Nenek Isah (jilbab cokelat) bersama Lurah Marang Yuliati Ningsih dan mahasiswa IAIN Palangka Raya serta Tim Komunitas Kantung Berbagi Senyum saat menyalurkan bantuan dari Pengajian Bank Kalteng dan Komunitas Kantung Berbagi Senyum. (DODI/RADAR SAMPIT)

”Saya tidak takut sendiri dan memang sudah terbiasa. Penerangan menggunakan lampu teplok,” ujar ibu dari lima orang anak ini.

Isah menambahkan, jika ia rindu dengan anak dan cucu, ada anak yang akan menjemputnya. ”Tergantung saya sendiri. Berpesan akan dijemput. Saya sehari-hari nelayan,” katanya.

Bacaan Lainnya

Saat banjir besar beberapa waktu lalu, Isah mengaku sempat mengungsi, karena rumahnya tenggelam. ”Saya mengungsi ke rumah anak di Marang, karena air masuk hingga setengah rumah,” katanya.

Isah menambahkan, untuk berumur panjang dan badan selalu sehat, dia mengamalkan hidup sederhana, tidak iri hati, beribadah, dan selalu memanjatkan doa kepada Tuhan.

”Hidup sederhana, tenang, dan tidak terlalu memikirkan dunia. Maka itu saya tinggal di rumah ini agar tenang, meskipun jauh dari hiruk-pikuk kota. Saya sangat bahagia,” ujarnya.

Lurah Marang Yuliati Ningsih mengatakan, Isah menjadi satu-satunya lansia yang masih menetap di kawasan Danau Bejawak. Pihaknya selalu memonitoring dan melakukan pengawasan terhadap nenek tersebut. Sesekali melakukan kunjungan dan pemeriksaan kesehatan.

Baca Juga :  Dipanggil Tak Menyahut, Pensiunan PNS Ini Ternyata Tewas

”Kami sangat memperhatikan beliau. Beliau satu-satunya yang tinggal di sini. Bahkan, pernah juga dibesuk Kapolres sambil menyalurkan bantuan,” katanya.

Menurut Yuliati, Isah memiliki anak di Marang Induk, namun memilih menetap di rumah tersebut, lantaran masih sayang dan banyak kenangan dalam hidupnya. (***/ign)

Pos terkait