Masyarakat Ikut Dikorbankan Sulitnya Dapat Solar

sopir truk antre solar
KEBERATAN DIHAPUS: Sejumlah sopir truk mengaku keberatan BBM subsidi jenis solar dihapus. (RADO/RADAR SAMPIT)

SAMPIT, radarsampit.com – Sengkarut distribusi bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis solar di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berimbas pada masyarakat luas. Pasalnya, solar yang langka dan sulit diperoleh, membuat pengusaha terpaksa menaikkan harga bahan bangunan.

Hamidi, salah seorang angkutan pasir di Sampit mengatakan, dalam dua minggu terakhir, harga pasir naik dari Rp 500 ribu per rit menjadi Rp 600 ribu per rit. Kemudian, harga pasir putih naik dari Rp 600 ribu – Rp 800 ribu per rit menjadi Rp Rp 950 ribu – Rp 1 juta. Salah satu pemicunya, karena pihaknya kesulitan mencari solar.

Bacaan Lainnya

”Selain naik dari pengusahanya, BBM solar sulit dicari. Ngikuti antrean bisa habis waktu seharian. Saya terpaksa beli di eceran dengan harga Rp 12-15 ribu per liter. Beli di SPBU Rp 5.250 saja, tapi antrenya dari pagi sampai sore. Belum lagi bayar antrean parkirnya. Sama saja. Sekarang mana yang cepat saja, yang penting bisa narik angkutan,” ujarnya, kemarin (25/8).

Baca Juga :  Berdiri di Lahan Sawit, Pondok Ilegal Dibongkar

Nita, salah warga Baamang yang tengah merehab rumahnya, mengaku terpaksa membeli pasir dengan harga lebih mahal. Dia tak menyangka masalah solar bisa memicu kenaikan harga material bangunan.

”Mudahan saja ada solusinya. Jangan sampai terus dibiarkan, masyarakat luas yang akan merasakan dampaknya,” ujarnya.

Sementara itu, sentimen organisasi angkutan diharapkan tidak mengorbankan para sopir. Hal itu seiring munculnya desakan kepada  pemerintah dari Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Kalimantan Tengah untuk mencabut subsidi solar.

Pos terkait