Meraih Mimpi Sukamara Bersama Electrifying Agriculture PLN

Berkontribusi 221 Ton Lebih, Interkoneksi SUTT Kalteng-Kalbar Kian Dinanti

pln sukamara
PASANG JARINGAN:  Instalatir saat memasang jaringan listrik PLN di lokasi tambak udang vaname Tanjung Selaka Farm di Desa Sungai Damar, Kecamatan Pantai Lunci.

Suksesnya panen perdana pilot project klaster tambak udang vaname di Kabupaten Sukamara pada tahun 2021 lalu, tak lepas dari pasokan listrik ke wilayah itu.

FAUZIANNUR-redarsampit.com, Sukamara

Bacaan Lainnya

Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Sukamara mencatat, pada 2020 hanya terdapat dua pembudidaya udang. Per Desember 2022, bertambah menjadi 13 pembudidaya.

Total produksi udang vaname Sukamara pada 2020 hanya tercatat 13,6 ton. Namun, produksi meledak tahun ini hingga mencapai 221 ton lebih. Jumlah itu melampaui target produksi tahun 2022 dari pemerintah daerah sebanyak 200 ton.

Melihat pertumbuhan itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukamara memproyeksikan udang vaname sebagai produk andalan daerah. Bermimpi menahbiskan diri menjadi bagian dari pemasok utama produksi udang nasional yang produksinya ditarget dua juta ton dengan kenaikan ekspor 250 persen pada 2024.

Mimpi itu perlahan mulai terwujud. Pada 2022, Sukamara telah berkontribusi 319 ton lebih. Berkaca dari kesuksesan itu pula, Pemerintah Provinsi Kalteng memasukkan udang vaname sebagai sumber kekuatan ekonomi baru masyarakat Kalteng.

Program Shrimp Estate Kalteng Berkah dicanangkan Gubernur Kalteng Sugianto Sabran. Titik awal dari Kabupaten Sukamara sebagai demonstration plot (demplot). Lokasinya di Desa Sungai Raja, Kecamatan Jelai, dengan luas 40,17 hektare. Perkiraan kebutuhan daya listrik untuk operasional Shrimp Estate itu sebesar 1,1 MegaWatt.

Para pembudidaya menyebut, peran listrik sangat vital. Sumber energi itu diibaratkan jantungnya proses budidaya yang bertugas menyuplai oksigen melalui mesin aerator, maupun kincir ke aliran air kolam. Fungsi utamanya sebagai aerasi.

Kurang dissolved oxygen (oksigen terlarut) di dalam air bisa berakibat fatal. Pertumbuhan udang dapat terganggu hingga berujung kematian massal.

”Toleransi kincir air tidak menyala hanya setengah jam. Lebih dari itu, berisiko tinggi terjadi kematian massal,” kata Ahmad Fachrudin (31).

Ahmad Fachrudin (31) merupakan pengelola tambak udang vaname Tanjung Selaka Farm di Desa Sungai Damar, Kecamatan Pantai Lunci. Lokasi itu bisa ditempuh 1,5 jam dari Kota Sukamara. Dia baru memulai budi daya 2021 lalu.

Modal awalnya sekitar Rp2,5 miliar. Sampai sekarang sudah empat kali siklus panen total (satu siklus empat bulan). Hasil rata-rata panen per siklus 35-40 ton. Menurutnya, cukup tiga siklus panen sudah kembali modal dan meraup untung. Listrik menjadi salah satu faktor utama keberhasilan itu.

Tanjung Selaka Farm mempunyai lahan seluas dua hektare. Dibangun konstruksi 10 kolam produksi, ditambah dua kolam water treatment, dua kolam instalasi pengolahan air limbah (IPAL), serta sarana prasana pendukung lainnya. Ukuran kolamnya 1.500 meter persegi. Satu kolam terpasang delapan kincir air.

Ahmad menjelaskan, untuk mendistribusikan air laut ke tandon diperlukan dua pompa ukuran enam inci. Operasional semua peralatan itu memerlukan daya listrik cukup besar.

”Listrik PLN terpasang 82 kVa. Itu pun perlu penambahan daya lagi jika menambah kolam. Harapan kami, pasokan listrik PLN terpenuhi dan lebih stabil, karena kestabilan berpengaruh terhadap umur pakai peralatan seperti kincir air maupun pompa,” ujar pria yang sehari-hari dipanggil Dude itu.

Ceritanya, satu siklus panen sekitar empat bulan. Menggunakan listrik PLN dengan rata-rata biaya yang dikeluarkan Rp150 juta dalam satu siklus. Pengeluaran itu jauh lebih efisien dibandingkan memakai genset. Uji coba mereka menggunakan satu unit genset 100 kVa untuk menyalakan semua peralatan menghabiskan sekitar 30 liter bahan bakar minyak (BBM) selama satu jam operasional.

Pos terkait