Operatornya di Kamboja, Bos Judi Online Hidup Sejahtera, Para Pemainnya Sengsara di Indonesia

judi
Ilustrasi Judi Online

JAKARTA, radarsampit.com – Judi online memang kejahatan yang lintas batas negara. Namun begitu, terdapat fakta menarik bahwa kendati operator judi online berada di perbatasan Kamboja, Thailand, dan Myanmar, tapi diduga bos judi online justru menikmati hidup di Indonesia.

Para bos judi online berlindung dengan celah hukum bahwa judi legal di Kamboja.

Bacaan Lainnya

Pakar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana menuturkan, Kamboja dan Myanmar dipastikan merupakan negara yang melegalkan judi. Karenanya kedua negara menjadi tempat favorit untuk para bandar judi membawa perusahaan dan uangnya.

”Kalau untuk Thailand, saya tidak mengetahui apakah judi resmi atau tidak,” tuturnya.

Untuk di Kamboja, lanjutnya, dirinya menemukan sendiri bagaimana pelaku judi online yang bermasalah akhirnya mencari perlindungan ke KBRI Phnom Penh, Kamboja.

”Saya hampir setiap tahun ke KBRI Phnom Penh untuk verifikasi local staff KBRI dalam rangka Hasan Wirajuda Award, penghargaan untuk diplomat melindungi WNI,” paparnya.

Dalam kesempatan itulah, lanjutnya, menemukan fakta terkait operator judi online yang kabur karena bermasalah dengan bos atau majikannya. Masalah itu bisa dari gaji yang tidak sesuai tawaran hingga mendapat perlakuan kasar.

”Operator judi ini biasanya dari Sihanoukville, sebuah kota judi di Kamboja. Mereka lari ke Phnom Phen yang ada KBRI,” urainya.

Dari para operator judi asal Indonesia inilah diketahui fakta bahwa bos judi online ini sebagian besar asal Indonesia. Karena itulah para bandar judi online ini menargetkan korbannya masyarakat Indonesia. ”Bos judi online ini membawa perusahaan dan uangnya ke Kamboja,” terangnya.

Para operator yang direkrut juga berasal dari Indonesia. Hal itu karena target pasarnya orang Indonesia. ”Saya ngobrol sama para pelaku yang akhirnya jadi korban ini. Mereka hanya di ruko-ruko, selama bekerja. Bertahun-tahun di Kamboja tidak bisa berbahasa Kamboja. Karena hanya hidup di kamar untuk mencari korban, keluar hanya mencari makan,” jelasnya.

Dari para operator judi online yang bermasalah dengan bosnya itulah didapatkan fakta bahwa bos judi online kebanyakan asal Indonesia. Bahkan, banyak diantara bos judi online itu berada di Indonesia dan menikmati kekayaan hasil judi online tersebut.

”Kalau ditanya kenapa tidak diproses hukum, mereka berlindung dengan hukum dari Kamboja yang melegalkan judi,” tuturnya.

Kondisi itulah yang dianggap menyulitkan, karena tidak memiliki bukti untuk mengajukan ke pengadilan. Kalau pun dipaksakan, bisa jadi jaksa kalah di pengadilan lantaran tidak ada bukti kuat. ”Ini yang harus dicari solusinya,” ujarnya.

Menurutnya, perlu sejumlah langkah menangani judi online. Yang pertama tentunya edukasi ke masyarakat. Kedua, mencari pelanggaran hukum yang dilakukan bos judi online di Indonesia.

”Yang terakhir, judi online ini harus dibawa Indonesia agar dibahas di tingkat ASEAN. Untuk menemukan solusi bersama,” tegasnya.

Sementara itu, Kementerian Agama (Kemenag) akan ikut gencar sosialisasi menjauhi segala bentuk perjudian. Termasuk diantaranya judi online (judol). Apalagi Dirjen Bimas Islam Kemenag juga masuk dalam struktur Satgas Pemberantasan Judol.

Dirjen Bimas Islam Kemenag Kamaruddin Amin mengatakan sosialisasi menjauhi judol itu diantaranya melibatkan penghulu dan penyuluh agama. Kedua profesi ini sangat dekat dengan keseharian masyarakat.

Para penghulu misalnya, dapat sosialisasi menjauhi judol kepada setiap pasangan mempelai yang akan dinikahkah.

“Kami rencana buatkan surat edaran kepada penyuluh dan penghulu,” kata Kamaruddin kemarin (23/6). Dia menegaskan para penyuluh dan penghulu memang harus responsif terhadap realitas dan dinamika yg terjadi ditengah masyarakat.

Pos terkait