Penghasilan Bukan Ukuran, Semangat Kebersamaan Menjalankan Bisnis Koran

Yang Tersisa dari Perayaan HUT Radar Sampit ke-17 Tahun (1)

hut radar sampit
RAYAKAN HUT: Jajaran manajemen bersama karyawan dan karyawati Radar Sampit berfoto bersama usai perayaan HUT Radar Sampit ke-17 tahun, Senin (17/4) lalu. (HENY/RADAR SAMPIT)

Perayaan ulang tahun ke-17 selalu terasa istimewa bagi siapa saja. Pun demikian dengan Radar Sampit yang baru saja menginjak usia itu 17 April lalu. Hari spesial itu menjadi lebih bermakna ketika sejumlah karyawan berbagi cerita bertahan dan berjuang bersama koran ini.

HENY-radarsampit.com, Sampit

Bacaan Lainnya

Suasana rapat yang diikuti karyawan-karyawati Radar Sampit Senin (17/4) lalu berbeda dari biasanya. Tak ada laporan maupun evaluasi mingguan yang jadi tema rapat perusahaan media pada umumnya.

Pertemuan yang dipimpin Direktur Radar Sampit Siti Fauziah itu jadi momentum untuk mengenang kembali kisah masa lalu. Perjuangan jatuh bangun koran ini hingga bertahan sampai sekarang.

Hadianur, karyawan divisi kreatif (layout), menjadi salah satu dari sejumlah orang yang masih berjuang ikut membesarkan nama Radar Sampit di hadapan puluhan karyawan. Menurut Hadi, sebelum Radar Sampit terbit perdana, persiapan sudah dilakukan jauh hari.

Pada 2004, Hadi bersama 15 karyawan yang direkrut ”disekolahkan” untuk mendapatkan pengalaman magang di Radar Banjarmasin. Koran besar bagian Jawa Pos Grup yang berpusan di Ibu Kota Kalimantan Selatan.

”Di sana kami magang tiga bulan. Menyewa rumah yang diisi belasan karyawan magang di daerah Landasan Ulin,” ujarnya.

Selama menjalani masa magang, ia seperti orang yang diasingkan karena tak mengenal siapa pun. Hadi saat itu menjalani magang sebagai wartawan.

”Dulu belum ada handphone. Menulis pakai notebook. Awal-awal ditugaskan meliput narasumber wali kota dan kapolres di Banjarmasin,” ujarnya.

Selesai menjalani masa magang, Hadi pulang ke Sampit lebih dulu, karena ingin memberangkatkan orang tuanya ibadah haji.

”Setelah magang di Banjarmasin itu, saya pikir sudah langsung siap kerja, ternyata harus menunggu kedatangan mesin dari luar negeri sekitar 1,5 tahun lagi. Waduh, sudah saya ini jadi mahasiswa terminal tiga kali. Dari Universitas Wijaya Kusuma berdiri sampai akhirnya tutup,” ujar Hadianur yang sempat menjalani kuliah jurusan sistem informasi selama enam semester.

Belum adanya kepastian, membuat Hadi mencoba bekerja di perusahaan lain. Saat itu dia digaji yang cukup besar, sekitar Rp 1,5 juta.

”Sudah kuliah mengambil terminal, enggak ada ongkos, makanya tetap harus cari kerja supaya bisa bayar kuliah. Setelah 1,5 tahun menunggu, saya ketemu Zain, kawan magang yang dulu di bidang montase yang saat itu kerja di swalayan. Zain mengabari Radar Sampit sudah buka. Kalau mau lanjut kerja lagi, bisa,” ujarnya.

Hadi akhirnya memutuskan kembali bekerja di Radar Sampit yang masih dalam tahap merintis. Akan tetapi, tugasnya sebagai wartawan tak bertahan lama. Dia pindah ke menjadi layout, tim kreatif divisi redaksi yang bertugas menata halaman sebelum terbit.

”Pekerjaan di perusahaan sawit itu hanya 2,5 bulan saja. Gaji lumayan tinggi saya tinggalkan dan memilih kerja di Radar Sampit. Saat magang saya hanya dibayar Rp200 ribu. Selesai magang, gaji pertama saya Rp350 ribu per bulan,” tambahnya lagi.

Masa awal bekerja sebagai layout menjadi sangat berat bagi Hadi. Pasalnya, dia tak begitu menguasai komputer.

”Pertama kerja disuruh pegang halaman Infotainment. Diminta croping, ternyata muka Ahmad Albar terpotong. Jadi layout memang perlu keahlian. Mengatur tata letak berita dalam halaman. Itu semuanya perlu proses. Di situ saya ingat Pak Ajid sambil guyon, menyuruh saya melaminating halaman infotainment yang saya garap itu,” kenangnya.

”Dulu, mengerjakan satu halaman butuh waktu satu jam dan baru bisa pegang halaman setelah menjalani masa magang tiga bulan, Sekarang, mengerjakan satu halaman hanya perlu sekitar 15-20 menit,” tambahnya lagi.

Pos terkait