SAMPIT – Kabar duka menyelimuti DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Politikus senior Hademan, berpulang ke pangkuan Ilahi pada Sabtu (17/7) malam di RSUD dr Murjani Sampit. Dia tercatat sebagai anggota DPRD Kotim aktif di Komisi III.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, Selama sepekan terakhir Hademan memang mengalami sakit dengan kondisi fisik lemah. Awalnya dia hanya istirahat di rumah. Namun, kondisinya yang memburuk, membuat almarhum harus dibawa ke IGD dr Murjani Sampit. Akan tetapi, tidak berapa lama setibanya di ruang IGD, dia dinyatakan meninggal dunia.
Kabar itu langsung menyebar dan mengagetkan banyak pihak, terutama para koleganya. Sejumlah anggota DPRD Kotim berdatangan ke rumah sakit. ”Tadi sore (Sabtu, Red) sampai Magrib, kami masih bersama almarhum. Kami masih bisa bersenda gurau di rumahnya,” kata Ketua Komisi III Sanidin.
Menurut Sanidin, almarhum Hademan merupakan sosok yang aktif menghadiri agenda DPRD, baik di komisi maupun agenda rapat lainnya. Selama menjadi legislator, almarhum getol menyuarakan aspirasi pembangunan.
Bahkan, pada 2020 lalu, dia kerap mempertanyakan banyaknya program pemerintah yang terkena refocusing yang mengorbankan pembangunan di dapilnya. Almarhum meninggalkan seorang istri, tiga anak perempuan, dan tiga cucu. Dia berpulang di usia 60 tahun. Sebelum memulai karir di dunia politik, Hademan berprofesi sebagai guru sekolah dasar dari desa ke desa.
Mantan Ketua DPRD Kotim Jhon Krisli yang juga kerap bersama almarhum semasa menjabat mengatakan, Hademan merupakan politikus senior dan memiliki basis masa yang militan. Makanya, setiap pemilu, perolehan suaranya selalu mampu membuatnya duduk di kursi di legislatif.
”Almarhum sosok politikus senior. Dia duduk di DPRD Kotim ini kalau tidak salah masuk periode ketiga. Beliau anggota DPRD Kotim periode 2004 – 2009, 2014 – 2019, 2019 – 2024,” kata Jhon.
Menurut Jhon, banyak kenangan semasa mereka bersama di lembaga. Tak jarang almarhum memberikan teguran dan masukan kepadanya sebagai pimpinan kala itu. ”Hal yang membuat saya salut pada almarhum, tidak pernah marah dan selalu ceria. Selama kami bersama di lembaga, tidak pernah tegang. Suasana selalu dibuat ceria dan penuh keakraban,” tuturnya.
Kepergian Hademan juga membuat Bupati Kotim Halikinnor merasa kehilangan. Dia hadir langsung dalam upacara pemakaman secara kedinasan di rumah duka di Kotabesi. Halikinnor mengaku sangat kehilangan sosok politikus senior yang sudah banyak berkontribusi untuk pembangunan di Kotim.
Bagi Halikinnor, almarhum Hademan merupakan panutan dan sebagai orang tua yang memiliki semangat untuk membangun di masyarakat. ”Kami, atas nama Pemkab Kotim turut berduka cita sedalam-dalamnya. Semoga almarhum ditempatkan di sisi pencipta dan keluarga yang ditinggalkan selalu tabah menghadapi ini,” kata Halikin.
Sementara itu, anak kedua almarhum, Enor, masih syok dengan kepergian ayahnya. Dia menuturkan, ayahnya dibawa ke rumah sakit karena kondisinya semakin lemah. Padahal, beberapa jam sebelumnya masih terlihat ceria dan bersenda gurau saat dibesuk rekan sejawatnya. (ang/ign)








