Setiap pekerjaan tak selalu berjalan mulus. Risiko dan tantangan akan selalu dihadapi di depan mata. Mengemban tanggungjawab menjadi kewajiban yang harus dijalani. Meskipun harus dihadapkan pada ancaman bencana alam gempa bumi yang bisa saja merenggut nyawa. Itulah pengalaman tak terlupakan yang dialami Kepala KSOP Kelas III Sampit Capt Mohammad Hermawan kala bertugas di Lombok, Nusa Tenggara Barat tahun 2018 lalu.
HENY, Sampit | radarsampit.com
Akhir pekan pada Minggu, 5 Agustus 2018, jadi momen tak terlupakan sepanjang hidup Mohammad Hermawan. Masih terekam jelas dalam ingatan Hermawan, ia bersama adik iparnya (laki-laki) sedang berada di Mall Epicentrum Lombok untuk menonton film di bioskop.
”Adiknya istri saya saat itu masih SMA. Malam itu, saya ingat dia ngomong gini, Mas nonton yok. Saya iyakan. Ayo dek kita makan dulu, setelah selesai salat magrib, kami menuju bioskop pesan tiket,” kata Hermawan pada Radar Sampit di ruang kerjanya, Selasa (3/10/2023).
Setelah memesan tiket, suara azan berkumandang. Hermawan mengajak adik iparnya untuk bersama salat di Musala kawasan mal. Adiknya memilih menunggu di ruang bioskop dan berniat salat ketika sampai di rumah. Hermawan akhirnya melangkahkan kakinya menuju musala.
Saat sedang salat di rakaat ketiga, getaran disertai guncangan terjadi sekitar jam 18.46 WITA. Salat akhirnya tak selesai, karena imamnya memilih lari menyelamatkan diri. ”Sudah masuk rakaat ketiga, tiba-tiba terjadi gempa. Karena, Imamnya lari, saya dan lebih dari 10 makmum lainnya ikutan berlari,” ucapnya.
Suasana mal kacau. Ratusan orang panik. Kocar-kacir mencari tempat aman. ”Untungnya saat kalut itu, saya masih bisa komunikasi dengan adik saya. Bisa teleponan dan kami bertemu di parkiran. Begitu keluar dari mal, listrik langsung padam. Warga ada yang berlari ke gunung, karena mereka khawatir tsunami,” katanya.
Setir mobil yang dikendalikan Hermawan menuju rumah mertuanya. Setiap 30 detik guncangan terjadi. Seingatnya, gempa bumi yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat selama Agustus 2018 lalu merupakan gempa terbanyak yang mencapai ribuan kali.
”Sampai sekarang pun gempa itu terkadang masih dapat dirasakan. Itu pengalaman yang luar biasa yang saya alami ketika saya bertugas di NTB. Selama tiga bulan saya tidur di mobil, karena gempa yang terus terjadi. Saya sudah mengira, gempa bumi ini pertanda kiamat. Namanya orang panik, tidak terpikirkan lagi urusan duniawi. Harta benda semua akan kita tinggalkan. Yang saya pikirkan hanya keluarga terdekat saya,” katanya.
Gempa berkekuatan (magnitude) 7,0 SR yang mengguncang Lombok saat itu bukan pertama terjadi. Mulanya gempa di Lombok berkekuatan 6,4 terjadi pada 29 Juli 2018. Sampai 5 Agustus 2018, BMKG mencatat sedikitnya 585 gempa susulan terjadi hingga pukul 18.46 WITA.
Berdasarkan data BNPB, gempa bumi Lombok tahun 2018 lalu menelan korban jiwa sebanyak 460 orang meninggal, 7.733 korban luka, 417.529 orang mengungsi. Kemudian, merusak 71.962 rumah, 671 fasilitas pendidikan, 52 unit fasilitas kesehatan, 128 unit fasilitas peribadahan, dan infrastruktur.
”Indonesia berada di bawah lempengan bumi. Negara yang memiliki gunung terbanyak didunia. Dengan keindahan dan kekayaan alamnya, tetapi risiko bisa dihadapi manusia kapan saja. Seumur-umur baru kali ini saya merasakan gempa bumi yang luar biasa dahsyat guncangannya,” katanya.
Sekitar pukul 10 malam, telepon Hermawan berdering. Telepon itu dari atasannya yang meminta untuk mengevakuasi rombongan keluarga Menteri Perhubungan yang berjumlah 45 orang berada di Pulau Gili Trawangan.








