Memasak bubur asyura sudah menjadi tradisi umat Islam. Momen ini diperingati setiap 10 Muharram kalendar Hijriah, sebagai bentuk syukur dan pengingat bagi umat Islam untuk memperbanyak amal ibadah, terutama pada bulan Muharram.
HENY, Sampit |radarsampit.com
Aroma harum masakan menggoda tercium kuat di ujung Jalan Ahmad Yani – Iskandar. Tepatnya di tepian jalan depan Masjid Madinatul Al Mubarokah yang letaknya berada persis di tepian Sungai Mentaya, Kawasan Ikon Jelawat.
Sekitar 20-an kaum pria yang merupakan jemaah aktif di Masjid Madinatul Al Mubarokah sibuk mengaduk bubur asyura dalam panci ekstra besar berkapasitas 1.500 liter. Panci itu bisa memuat 50 kilogram bubur asyura.
Selama tiga jam, mulai pukul 07.00-10.00 WIB, bubur asyura dimasak menggunakan tungku yang dimodifikasi khusus menggunakan kayu bakar dan dua tungku panci berukuran sedang diolah dengan kompor gas.
Selama proses memasak berlangsung, bubur harus terus diaduk agar tidak gosong. Alat untuk mengaduk juga dibuat khusus berbahan kayu, seperti alat mengayuh perahu.
”Pengadukannya tidak gampang, karena bubur yang dimasak puluhan kilogram. Mengaduknya juga cukup berat, bisa sampai terlipat perut. Yang mengaduk hanya bapak-bapak. Ibu-ibu tugasnya meracik bumbu, sayur, dan mengemas dalam plastik. Selama proses memasak, bubur harus terus diaduk agar di dasar pancinya tidak gosong,” ucap Abdul Malik Seman, Koordinator Seksi Acara Program Peringatan Hari Penting Islam di Masjid Madinatul Al Mubarokah saat diwawancarai Radar Sampit, Rabu (17/7/2024).
Tradisi memasak bubur asyura sudah tahun ke tujuh dilaksanakan di Masjid Madinatul Al Mubarokah. Setiap tahun sekali, tepatnya 10 Muharram, pihaknya masak besar 120-150 kg bubur asyura yang dapat menghasilkan 3.000-5.000 porsi.
”Sesuai kalendar nasional 10 Muharram itu kemarin, untuk peringatan Hari Asyura ini kami mengikuti sidang isbatnya NU yang jatuh pada hari ini, Rabu 17 Juli. Tetapi, untuk ketetapan puasa Ramadan dan Lebaran kami tetap mengikuti pemerintah (kalendar nasional),” katanya.
Di tengah harga beras yang semakin mahal, modal untuk membeli bahan baku pengolahan bubur, sayur-sayuran, dan bumbu memerlukan dana tidak sedikit. Namun, Malik yang juga selaku anak dari Alm Seman Arif tokoh masyarakat yang mewakafkan tanah yang kini menjadi bangunan Masjid Madinatul Al Mubarokah merasa bersyukur, karena memasak bubur asyura sepenuhnya diperoleh dari sumbangan donatur yang merupakan jemaah aktif di masjid tersebut.
”Kalau saya perkirakan, untuk bahan makanan membuat bubur asyura 150 kilogram ini kira-kira bisa mencapai Rp5-7 juta. Ini hanya perkiraan saya saja, karena dana sampai semua peralatan memasak ini sumbernya dari donatur utama kami, Pak Haji Kamarudin. Beliau tidak pernah menyebut biayanya. Selama tujuh tahun ini beliau selalu bantu dan mudah-mudahan kegiatan ini istiqomah dilakukan setiap setahun sekali,” kata Malik.
Kabarnya, panci besar yang digunakan untuk memasak bubur asyura milik Kamaruddin dipesan khusus dari Jeddah, Arab Saudi seharga Rp30 juta per panci. Pengirimannya melalui kargo sampai Sampit mencapai lebih Rp60 juta.
Panci itu bisa dikatakan yang terbesar dimiliki Kamaruddin di Sampit. Panci tersebut kerap dimanfaatkan dalam setiap kegiatan, seperti haul tokoh agama, peringatan Maulid Nabi, dan acara hajatan besar lainnya.
Tradisi memasak dan berbagi bubur asyura dimaknai sebagai bagian dari syiar agama Islam. Pada bulan mulia ini, umat islam dianjurkan memperbanyak amal ibadah di bulan Muharram yaitu bulan pertama dalam kalendar islam atau tahun baru islam yang tahun ini jatuh pada Minggu 7 Juli 2024 (1 Muharram 1446 Hijriah).








