SAMPIT, radarsampit.com – Kasus kecelakaan kerja pada mata di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) cukup tinggi. Untuk mengurangi risiko kecacatan penanganannya, perlu dilakukan dengan tepat.
Dokter Spesialis Mata Frisma Sagara Brilliyanto MD mengatakan, penting untuk mengetahui penanganan awal kasus kecelakaan kerja pada mata.
“Apakah perlu secepatnya dirujuk atau bisa ditunda. Ada kondisi tertentu yang justru semakin berisiko kalau langsung dirujuk. Misalnya pendarahan pada bola mata, kalau harus menempuh perjalanan jauh dan jalan rusak, sampai di Sampit ini pendarahan itu justru menjadi semakin parah,” ujar Frisma saat menjadi narasumber seminar kegawatdaruratan pada mata yang digelar di Sampit, Sabtu (14/8).
Seminar tersebut diikuti para dokter dan tenaga kesehatan, khususnya klinik yang ada di lokasi perusahaan perkebunan kelapa sawit. Selain Frisma, seminar ini juga menghadirkan rekannya yang juga dokter spesialis mata yaitu dr I Made Satya Widatama, Sp.M. Kegiatan diisi paparan dan diskusi, khususnya terkait penanganan awal kecelakaan kerja pada mata.
Frisma menjelaskan, kasus kecelakaan kerja pada mata di Kotim cukup tinggi. Seperti di klinik yang ditanganinya, setiap hari berkisar 15 sampai 20 pasien mata yang datang berobat.
Sebagian dari kasus kecelakaan kerja pada mata yang terjadi di Kotim adalah pada sektor perkebunan kelapa sawit. Tingkat keparahannya bervariasi, namun tidak sedikit yang hampir mengalami kecacatan atau kebutaan, salah satunya lantaran dirujuk sudah dalam kondisi parah.
Beberapa kasus yang ditangani umumnya penderita merupakan pekerja pemanen sawit yang matanya tertusuk benda maupun terkena serbuk-serbuk saat mereka memanen kelapa sawit.
Dirinya menerangkan, untuk penanganan kecelakaan kerja mata akibat trauma fisik maupun trauma kimia, harus dilakukan secara tepat. Jika keliru, dikhawatirkan akan membuat kondisinya semakin parah sehingga menyulitkan untuk penanganan lebih lanjut.
“Seperti untuk trauma fisik tertembus, penanganannya harus segera dirujuk ke rumah sakit sehingga bisa ditangani lebih intensif untuk mencegah kecacatan atau kebutaan,” terangnya.
Sementara untuk kondisi tertentu seperti pendarahan mata atau trauma kimia, disarankan lebih cepat ditangani di fasilitas kesehatan setempat.
Disebutkannya, ada tiga hal penting dalam penanganan kecelakaan kerja mata. Hal ini penting untuk terus dipegang oleh petugas medis dan kesehatan. Pekerja disarankan mengutamakan pencegahan melalui penggunaan alat pelindung diri, khususnya kacamata untuk mencegah kecelakaan kerja mata.
“Jika terjadi kecelakaan kerja pada mata, penanganan awal sangat penting sehingga tidak sampai terjadi infeksi yang lebih lanjut,” terangnya.
Putra pasangan dr Yuendri Irawanto dan mendiang dokter spesialis mata Naris Roswidiyandari Sp.M ini mengingatkan kecepatan rujukan juga tak kalah pentingnya, ketika terjadi trauma tembus atau trauma yang mengakibatkan infeksi berat.
“Jangan sampai terlambat dirujuk ke dokter mata karena akan sulit jika kondisinya sudah parah,” ucapnya.
Frisma menuturkan, seminar ini sendiri digelar dalam upaya untuk menurunkan angka kecacatan atau kebutaan akibat kecelakaan kerja mata di Kotim. Dari seminar ini diharapkan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan di klinik-klinik sehingga penanganan kecelakaan kerja, terutama pada mata akan tertangani lebih baik dan potensi kecacatan atau kebutaan bisa terus ditekan.
Berdasarkan data BPJAMSOSTEK, selama 2021 lalu terdapat 606 kecelakaan kerja pada mata. Artinya dalam sebulan ada sekitar 51 kasus kecelakaan kerja pada mata.







