Dinyatakan Sehat, Orangutan Dari Bedaun Dilepasliarkan

Dinyatakan Sehat Orangutan Dari Bedaun Dilepasliarkan
PELEPASLIARAN: Orangutan jantan berusia 25 tahun dengan bobot 83 kilogram dilepaskan ke TNTP setelah dievakuasi dari kawasan perkebunan kelapa sawit di Desa Bedaun, Kecamatan Kumai, Jumat (26/2)

PANGKALAN BUN – Orangutan jantan berusia 25 tahun dengan bobot 83 kilogram yang dievakuasi dari blok M 13 PT Bumi Langgeng, Kumai Seberang, Desa Sungai Bedaun, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, dilepaskan kehabitatnya di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Jumat (26/2).

Orangutan tersebut direscue di kawasan perkebunan dengan menggunakan bius, Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) SKW II Pangkalan Bun bersama Orangutan Foundation International (OFI) membius individu tersebut dengan menggunakan sumpit hingga tertidur.

Orangutan yang sebelumnya kedapatan berkeliaran di dalam kawasan permukiman warga Desa Sungai Bedaun itu, sebelum dilepasliarkan dilakukan pemeriksaan kesehatan dengan tes antigen, serta pemeriksaan fisik lainnya.

Tidak ditemukan luka-luka pada tubuh primata yang dilindungi tersebut, setelah dimasukan dalam kerangkeng, Orangutan dewasa itu dibawa ke TNTP yang merupakan habitat aslinya.

Kepala BKSDA SKW II Pangkalan Bun Dendi Setiadi mengatakan, setelah berhasil direscue serta dilakukan pemeriksaan kesehatan, Orangutan tersebut dimasukan ke dalam kerangkeng yang sudah disiapkan.

Baca Juga :  PTM 100 Persen Terapkan Protokol Kesehatan Ketat  

“Tidak kita temukan luka-luka, dan pemeriksaan antigen juga negatif, Orangutan dalam kondisi sehat,” ungkapnya, Sabtu (27/2).

Proses pelepasliaran kehabitatnya di kawasan TNTP membutuhkan waktu, karena dari lokasi rescue di PT Bumi Langgeng menuju ke TNTP harus melalui jalur laut dengan menggunakan Speedboat.

Ia menjelaskan keluarnya Orangutan dan masuk ke kawasan permukiman penduduk diduga karena persediaan makanan Orangutan di alamnya sudah mulai menipis atau hampir habis.

“Selain itu juga akibat tingginya alih fungsi lahan dari semula hutan menjadi areal perkebunan, sehingga habitatnya terdesak dan masuk ke kebun warga,” pungkasnya. (tyo/sla)

Pos terkait