Ekspor Minyak Goreng Dibuka, Petani Berharap Harga Sawit Membaik

ANGKUTAN-SAWIT-ANTRE
DAMPAK LARANGAN EKSPOR CPO: Angkutan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit antre di salah satu peron pembelian kelapa sawit di Desa Purwareja, Kecamatan Sematu Jaya, Kabupaten Lamandau, beberapa waktu lalu. (DOK. RIA MEKAR ANGGREANY/RADAR SAMPIT)

SAMPIT – Dibukanya kran ekspor minyak goreng diharapkan berdampak pada membaiknya harga beli tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. Pasalnya, dalam sebulan terakhir, petani kelapa sawit terpuruk karena menghasilan yang anjlok akibat harga TBS merosot.

”Semoga dengan dibukanya keran ekspor, tidak ada lagi alasan tidak menerima dan mematok harga murah untuk TBS warga,” kata Ady, petani sawit di Kecamatan Telawang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Jumat (20/5).

Bacaan Lainnya

Dia mengungkapkan, dalam beberapa pekan terakhir, pihaknya kesulitan menjual TBS. Ada sejumlah pabrik penerima menolak membeli TBS warga dengan alasan stok minyak sawit mereka tidak tertampung jika menerima dari luar. Pabrik hanya bisa mengolah dan menampung buah milik sendiri.

”Kemarin, alasan PKS (pabrik kelapa sawit) tidak menerima karena stok CPO mereka melimpah dan tidak ada lagi tempat penampungannya sejak ekspor dilarang. Tapi, per Senin nanti, ketika keran ekspor dibuka, kami berharap harga lebih baik dan TBS diterima,” ujar Ady.

Baca Juga :  Legislator Dukung Pasukan Merah Tagih Plasma Perkebunan

Sementara itu, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Kabupaten Kotim mencatat, kebijakan larangan eskpor sebelumnya berdampak buruk terhadap petani. Harga jual TBS dari sebelumnya Rp 3.500, anjlok menjadi Rp 1.500 – Rp 1.700. Kondisi itu membuat petani kian terjepit. Apalagi untuk harga pupuk, herbisida, dan sejenisnya masih tinggi.

”Harga pupuk, herbisida, dan lainnya tidak ada penurunan, sehingga dengan harga Rp 1.700 itu tidak sebanding dengan biaya operasional kebun kami,” kata Harnes, Sekretaris Apkasindo Kotim.

Pos terkait