Niat hati berangkat subuh dari kota Kecamatan biar dapat antrean, namun hingga petang tak kunjung divaksin, warga pun berkeluh kesah, susahnya mendapatkan vaksin.
YUNI PRATIWI, Sampit
Seharian berada di Citimall Sampit sepertinya lebih dari lelah yang dirasa Vina. Kalau bukan karena peraturan yang mengharuskan dia mendapatkan sertifikat vaksin, mungkin penantian ini tak perlu dilakukannya.
Gadis 18 tahun ini masih sabar menunggu hingga hari berubah gelap. Vina rencananya hendak berangkat ke Pulau Jawa pada 7 Agustus ini, menggunakan transportasi udara.
“Saya mau sekolah ke Jogja, tahunya diminta sertifikat vaksin di bandara,” ujar Vina mengawali ceritanya.
Ketiadaan dosis vaksin di Puskesmas Parenggean membuat Vina harus pergi ke Kota Sampit, setelah mendapatkan informasi adanya pelaksanaan vaksinasi massal di Citimall.
“Vaksin di Puskesmas Parenggean habis. Makanya saya ke Sampit,” ucapnya.
Vina yang mendapatkan giliran kloter ketiga itu takut jika vaksinasi Covid-19 tak diterima, maka keberangkatannya ke Yogyakarta akan gagal, padahal keberangkatan sudah dijadwalkan, tiket pun sudah dipesan.
“Kalau tidak dapat jatah vaksin, ya gagal berangkatnya, padahal sudah pesan tiket,” ucapnya.
Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Citimall memang menarik antusiasme masyarakat, mulai dari sisi barat hingga timur bangunan mall penuh sesak oleh para calon penerima vaksin.
“Gak tahu ini, bisa dapat vaksin apa enggk. Sampai jam segini masih belum dipanggil. Petugasnya ditanya malah marah marah, yang ditakutkan KTP-nya hilang,” ungkapnya.
Saking kelelahan Vina sampai bergantian dengan ibunya untuk antre menunggu panggilan vaksin.
“Mending saya bayar vaksinnya dari pada ngantre,” kata Ibunya Vina.
Salah seorang warga Kecamatan Ketapang Anty mengatakan saat ini warga antusias untuk vaksin karena banyak keperluan yang mengharuskan untuk vaksin.
“Jadi kayanya bukan karena untuk kesehatan, tapi karena ada banyak aturan yang mengharuskan menyertakan sertifikat vaksin,” sebutnya. Dirinya menyontohkan saat ini daftar anak sekolah saja orang tuanya harus melampirkan kartu vaksin.
“Terbang kemana pakai kartu vaksin. Padahal sudah swab/PCR. Apa gak bisa salah satu saja yang dipakai,” tuturnya.
Sementara itu, Tiwi warga lainnya hingga kini harap-harap cemas karena kedua orang tuanya yang berada di Semarang hingga kini belum dapat pulang ke Kalimantan.
Tiwi menceritakan sebulan yang lalu orangtuanya sudah sempat akan pulang ke Kalimantan, tiket sudah di pesan. Namun saat menjalani tes di bandara ternyata keduanya positif Covid-19 hingga harus lakukan isolasi mandiri selama 14 hari saat itu.
“Tiket pun hangus, gak bisa di refund sama sekali,” ucapnya.
Saat ini, ketika berencana pulang ke Kalteng lagi-lagi harus tertunda karena ayahnya belum divaksin. Faktor kesehatan membuat sang orangtua tidak dapat di vaksin, sehingga harus menunggu sampai kondisinya benar-benar memenuhi kriteria vaksin.
“Mungkin sakitnya karena pikiran, kemarin sempat mau pulang gagal karena positif, ini mau pulang ada kewajiban harus vaksin, kasian orangtua disana cuman berdua,” imbuhnya.
Harga tiket pesawat yang tidak murah, belum lagi kewajiban PCR tentu bagi masyarakat sangat memberatkan, apalagi kata Tiwi orangtuanya ke Semarang bukan untuk berlibur tapi untuk berobat.
“Kalau seperti ini gimana, masa mau pulang saja susah. Mungkin selain saya juga banyak yang merasakan kebijakan ini seperti mempersulit masyarakat,” tutupnya. (***/fm)







