Oksigen Terbatas, Asap di Dapur Tidak Boleh Menyebar

KRI Nanggala
KESEMPATAN LANGKA: Kru kapal selam KRI Nanggala 402 saat mengecek ruang mesin pada 6 September 2012. Wartawan Jawa Pos THORIQ S KARIM dan fotografer DITE SURENDRA pernah diizinkan melihat langsung bagian dalam KRI Nanggala pada 2012. Mengunjungi ruangan demi ruangan dan menyaksikan gambaran keseharian di dalamnya. Berikut petikan ulang cerita dan foto mereka. (DITE SURENDRA/JAWA POS)

Kenangan Masuk ke KRI Nanggala

Wartawan Jawa Pos (Grup Radar Sampit)THORIQ S KARIM dan fotografer DITE SURENDRA pernah diizinkan melihat langsung bagian dalam KRI Nanggala pada 2012. Mengunjungi ruangan demi ruangan dan menyaksikan gambaran keseharian di dalamnya. Berikut petikan ulang cerita dan foto mereka.

Bacaan Lainnya

==================

KAPAL selam lebih tertutup daripada kapal permukaan. Untuk bisa masuk, kami harus mengantongi izin dari pimpinan. Begitu pula untuk mengambil gambar. Harus ada izin dan mesti didampingi anggota TNI Angkatan Laut (TNI-AL) yang ditunjuk. Saat itu kami didampingi Sersan Mayor (Serma) Suraji. Dia sudah 24 tahun menjadi bagian di Satuan Kapal Selam Koarmatim (sekarang Komando Armada II) buatan Jerman tersebut.

Cara masuk kapal selam berbeda dengan kapal permukaan. Kami ingat betul, kalimat yang kali pertama diucapkan Suraji adalah siapkan mental. ”Jangan dibayangkan seperti kapal perang yang biasa dilihat orang,” ungkapnya kala itu.

Baca Juga :  Penanganan Covid-19 di Kotim Membaik, Ini Indikatornya

Pengalaman tersebut kami rasakan ketika KRI Nanggala-402 masih bersandar di dermaga Koarmatim (sekarang Komando Armada II) di Tanjung Perak, Surabaya. Pintu masuk berada pada bagian punggung kapal yang dibuat pada 1977 tersebut. Suraji mempersilakan saya masuk lebih dulu.

Ruang pintu itu berbentuk elips. Diameternya sekitar 50 sentimeter alias hanya cukup untuk satu tubuh orang dewasa. Dindingnya terbuat dari besi. Karena itu, perlu berhati-hati saat naik atau keluar dari kapal melalui lorong tersebut. Salah sedikit, tubuh bisa terbentur dinding yang terbuat dari besi.

Kala itu kami membayangkan, pada kondisi darurat, awak buah kapal harus tenang. Pintu keluar hanya cukup dilewati satu orang. Penyelamatan diri harus ekstrasabar. Selain itu, awak buah kapal harus mengatur siasat waktu muncul ke permukaan air agar tidak mengalami dekompresi. Cukup berisiko.

Perlahan, kaki kami menuruni tangga di lorong pintu masuk tersebut. Kami menuruni sekitar 10 anak tangga. Lalu, berganti ke tangga lainnya. Dari atas, Suraji memberi aba-aba. ”Tangga satunya untuk masuk ke dalam,” ujarnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *