Kepungan Banjir di Kota Sampit Terus Meluas

Penanganan Belum Berhasil, Air Malah Rendam Wilayah yang Dulunya Bebas Banjir 

banjir kota sampit
MENGUNGSI: Warga terpaksa mengungsi sambil membawa barang-barang ke rumah keluarga atau kerabat yang tak tersentuh banjir di Jalan Suka Bangsa, Rabu (1/5/2024). (YUNI/RADAR SAMPIT)

SAMPIT, radarsampit.com – Kepungan banjir di Kota Sampit kian meluas. Tingginya curah hujan ditambah air sungai pasang, memperparah bencana.

Di sisi lain, upaya penanganan banjir yang dilakukan Pemkab Kotim tak berhasil. Sebaliknya, air justru merendam wilayah yang tadinya bebas dari banjir.

Bacaan Lainnya

Debit air mulai naik sekitar pukul 02.00 WIB Senin (29/4/2024) dini hari hingga pagi. Banjir di sejumlah ruas jalan sempat surut. Namun, hujan yang kembali mengguyur Kota Sampit dan sekitarnya pada Selasa (30/4/2024) dan Rabu (1/5/2024), membuat air kembali naik.

Pantauan Radar Sampit, banjir merendam ruas Jalan RA Kartini, Jaya Wijaya, Suka Bangsa, Suprapto, DI Panjaitan, Anang Santawi, dan ruas lainnya.

Sebagian warga mulai cemas menghadapi banjir yang sudah memasuki rumah. Warga yang mengaku rumahnya tak pernah kebanjiran selama puluhan tahun di Sampit, kini harus menerima kenyataan air menyesap masuk di semua sudut rumah.

Hal itu dialami Luluk Munarti (64), warga Kecamatan Baamang, Jalan Suka Bangsa. Dia  mengaku tinggal sejak tahun 1988, tak pernah mengalami banjir, karena struktur bangunan berbentuk rumah panggung.

Namun, seiring waktu, rumah yang tadinya tinggi, hampir sejajar mendekati permukaan tanah.

”Dua minggu lalu banjir hanya menggenang di halaman rumah dan sudah masuk ke dapur. Mulai subuh ini pertama kalinya air masuk sampai seisi rumah,” ujar Luluk, kemarin.

Subuhan hari Luluk menyadari air sudah memasuki kamarnya yang berlantai kayu ulin. Dia kaget dan langsung mengangkat kasur ke tempat lebih aman.

Luluk tak menyangka rumahnya kebanjiran. Padahal, putra dan menantunya sejak dua hari terakhir mengungsi di rumahnya akibat banjir. Air lebih dulu merendam kediaman anaknya pada Senin (29/4/2024) dini hari yang berada tepat di depan rumahnya.

Baca Juga :  Halikinnor Prihatin Dugaan Perampasan Lahan Masyarakat Luwuk Bunter

”Rumah saya ini padahal sudah tinggi. Selama 36 tahun tinggal di sini tidak pernah ditinggikan. Tidak pernah kebanjiran. Baru kali ini banjir,” ujarnya.

Ketinggian air di rumahnya sudah mencapai semata kaki, sementara di pekarangan air sudah setinggi 30-40 cm, hampir selutut orang dewasa.

”Tetangga saya sudah banyak yang mengungsi ke rumah keluarga dan saya sendiri juga akhirnya memilih mengungsi ke rumah adik yang tidak jauh dari rumah saya,” katanya.

Rumah yang tadinya dipenuhi tujuh anggota keluarga yang menemaninya, satu per satu mulai mengungsi ke tempat keluarga yang rumahnya tak kebanjiran.

”Yang bertahan di rumah cuma anak pertama saya sama istrinya. Sudah disuruh mengungsi saja dulu ke rumah saudara, tapi enggak mau. Dia mau jaga rumah saja,” ucapnya, seraya menambahkan, putra sulung bersama menantunya terpaksa beristirahat di loteng.

”Loteng itu buat nyimpan barang-barang saja. Jadi gudang. Tak pernah dipakai. Tadi pagi anak sama menantu beres-beres loteng buat tempat istirahat. Atapnya juga ada yang bocor. Kalau hujan pasti tempias,” tambahnya lagi.

Pikiran Luluk sudah tak keruan. Tak hanya memikirkan nasib rumahnya yang kebanjiran, dia juga cemas karena menanti cucu keenam yang akan segera lahir.

”Mulai jam setengah satu malam tadi, anak sudah dibawa ke dokter. Sampai sekarang masih cemas menunggu anak lahiran,” ucap Ibu yang memiliki tiga anak ini.

Kondisi banjir yang tak menunjukkan tanda-tanda surut juga semakin membuat Luluk beserta anak-anaknya mulai khawatir. Terlebih rumahnya berada persis di pinggir anak sungai di Jalan Sampurna yang sudah meluap sejak Senin (29/4/2024) dini hari.

”Malam tadi saat hujan deras. Ada ular masuk barak. Sekarang ada penghuni barak yang memilih pindah karena barak juga kebanjiran. Saya kira cuma mengungsi, tahu-tahunya angkut-angkut barang pindahan,” ucapnya.

Pos terkait