Kurangi Potensi Mubazir, Nasi Berkat Bisa Diganti Bahan Mentah 

Pj Bupati Kobar Budi Santosa
WAWANCARA: Pj Bupati Kobar Budi Santosa saat di wawancarai awak media di Pangkalan Bun, Rabu (2/3/2024). (ANTARA/Safitri RA)

PANGKALAN BUN, radarsampit.com – Acara selamatan sering kali diiringi dengan pemberian nasi berkat untuk dibawa pulang tamu undangan. Tradisi pemberian nasi berkat ini diharapkan bisa diganti dengan bahan mentah agar tidak mubazir.

“Nasi berkat biasanya tidak termakan. Sebagian terbuang. Saya imbau supaya diganti bahan mentah saja seperti beras, telur, dan lainnya agar manfaatnya lebih besar dan tidak basi sehingga bisa dimasak kapan saja,” ungkap Penjabat Bupati Kobar Budi Santosa.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, beras menjadi penyumbang inflasi yang relatif tinggi. Makanan yang sudah dimasak menjadi nasi, belum tentu dimakan sehingga akan sia-sia.

Ia juga menyoroti di setiap kegiatan yang menyediakan makanan kerap kali tidak dihabiskan. Maka ia mengimbau agar hal ini menjadi perhatian masyarakat.

“Mari kita jaga seefektif mungkin dari hal terkecil ini,” beber Budi Santosa.

Terkait imbauan ini tanggapan masyarakat sangat beragam karena dianggap sebagai tradisi di tengah masyarakat. Di sisi lain, imbauan ini dianggap masuk akal.

Baca Juga :  Balapan Liar Makin Menjadi Di Pangkalan Bun

Seperti warga dari kalangan masyarakat Jawa yang masih kental dengan tradisi menyebut, setiap nasi berkat mengandung arti dan makna yang berbeda dalam menunya. Mulai dari selamatan 40 hari setelah orang meninggal, selamatan nikahan, dan khitanan.

“Kalau pakai bahan mentah akan mengurangi makna. Belum lagi karena sudah tradisi kalau habis selamatan/hajatan nasi berkat ditunggu anak istri,” ungkap Anto, warga eks transmigrasi Pangkalan Lada.

Ada juga yang berpendapat bahwa imbauan Pj Bupati Kobar masuk akal, karena nasi berkat sering kali tidak termakan.

“Orang selamatan, kalau di daerah eks transmigrasi Pangkalan Lada biasanya malam, antara habis magrib atau isya. Kalau dibawa pulang biasanya keluarga sudah pada makan, termasuk kita yang diundang juga sudah diberi makan kadang-kadang memang mubazir tidak termakan akhirnya basi,” tutur Huda.

Menurutnya imbauan itu bagus dan dikembalikan saja kepada individu masing-masing. (sam/yit)

 

 

 



Pos terkait