Lestarikan Adat dan Budaya Melalui Film Surung Sanda

surung sanda
FILM BUDAYA: Kadis Kominfo Kobar Rody Iskandar menyampaikan laporan Ketua Panitia Pemutaran Perdana Film Surung Sanda di Ballroom Hotel Avilla Pangkalan Bun, Senin (14/11/2022) malam. (Istimewa/Radar Pangkalan Bun)

PANGKALAN BUN, radarsampit.com – Upaya pelestarian adat dan budaya tak hanya dengan melaksanakannya, namun mendokumentasikan prosesinya bisa menjadi salah satu cara untuk menjaganya tetap aman dari kepunahan.

Hal ini seperti yang dilakukan Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfo) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) yang memproduksi film Surung Sanda. Pemutaran perdana film bertemakan kearifan lokal ini telah berlangsung pada Senin (14/11) malam.

Tingginya antusiasme masyarakat terbukti dari ludesnya tiket dalam satu jam penawaran. Pada pembukaan pendaftaran penonton secara online, kuota 50 penonton langsung terpenuhi hanya dalam waktu 1 jam.

Apresiasi yang tinggi terhadap film ini merupakan bagian dari dukungan masyarakat Kobar kepada karya film-film lokal yang saat ini terus berkembang.

Kepala Diskominfo Kobar Rody Iskandar menjelaskan, film Surung Sanda merupakan film mengenai ritual budaya yang masih dilakukan masyarakat pesisir pantai untuk menolak bala/marabahaya.

“Tujuan Dinas Kominfo mengangkat film fiksi bertema budaya ini untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya yang masih melekat di masyarakat Kobar. Khasanah ritual budaya ini tentu harus tetap dijaga dipelihara agar tidak hilang begitu saja darimasyarakat,” ungkap Rody.

Baca Juga :  Puluhan Hektare Lahan Pertanian Terendam Banjir

Untuk itu, lanjut Rody, nilai-nilai budaya tersebut perlu diangkat dan dipublikasikan secara luas dalam berbagai bentuk agar mudah dimengerti salah satunya melalui film pendek sebagai dokumen digital yang akan tetap terpelihara untuk diketahui generasi selanjutnya.

Rody berharap pemutaran perdana Film Surung Sanda ini dapat memacu semangat dan kreativitas para senias lokal untuk mengangkat film-film bertemakan kearifan lokal, baik itu adat dan budaya maupun pariwisata.

Pos terkait