NANGA BULIK– Datangnya banjir tidak hanya menimbulkan kesusahan bagi masyarakat. Sebagian warga justru mendapat berkah saat banjir, salah satunya mendapatkan ikan-ikan nyasar yang terbawa arus hingga dekat pemukiman.
Setiap kali banjir beberapa titik jembatan di kota Nanga Bulik dan Desa Kujan akan langsung diserbu warga untuk menebar jaring (lunta). Tak tanggung-tanggung, satu titik lokasi bisa dikepung 5-10 orang pelunta sejak pagi hingga sore hari. “Alhamdulillah cukup untuk lauk makan,” ujar Jovi, salah satu pelunta, Selasa (7/9).
Ikan yang masuk jaring ini biasanya Ikan Tembakang, Gurami, Nila, dan Patin yang lepas dari kolam warga. Mereka baru pulang setelah mendapatkan ikan yang cukup untuk lauk sehari-hari. “Kalau beruntung dapat lebih banyak ya dijual,” lanjutnya.
Bagi yang tidak bisa melunta, banyak juga yang memancing Ikan Pepuyu (Betok) dan Haruan di parit pinggir jalan yang terendam banjir.
Saat malam hari, aktivitas akan berubah menjadi Menyuar, yakni cara warga mencari ikan dengan cara menerangi di lokasi banjir dekat rumah warga, kemudian menombak ikan yang terlihat. Biasanya ikan yang ditombak berukuran cukup besar, seperti Ikan Haruan dan Toman.
“Ini adalah cara alam memberikan keseimbangan kehidupan. Saat banjir, ikan dari sungai dan rawa akan naik ke daratan yang sebelumnya tidak terendam air. Semut dan rayap akan keluar dan menjadi makanan ikan. Jadi biasanya setelah banjir ikan akan gemuk-gemuk,” ungkap Bony salah satu warga.
Namun tentu saja banjir ini juga menimbulkan kerugian bagi para pemilik kolam/tambak ikan. “Karena puluhan kolam warga terendam dan ikannya terbawa banjir. Kerugian yang diderita bisa mencapai puluhan juta,” ungkapnya.(mex/sla)