Oleh: Ariel Adythiatama Setiawan (Mahasiswa UMM Prodi Ilmu Pemerintahan)
Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang di Piala Asia U-23 di Qatar, tidak dapat dipungkiri bahwa masa depan Timnas Indonesia telah mengalami Revolusi.
Timnas Indonesia mencapai babak semifinal pada Piala Asia U-23 setelah menang melawan Korea Selatan melalui adu penalti dengan skor 10-11. Sebelumnya, Indonesia menjadi Runner Up di Grup A setelah mengalahkan Australia dengan skor 1-0, dan mengalahkan Yordania 4-1.
Terlepas dari pencapaian tersebut, kita harus mengapresiasi kinerja para staff, pelatih Shin Tae Yong, dan khususnya para pemain yang telah berjuang di atas lapangan demi membela lambang garuda di dada.
Pemain Timnas Indonesia U-23 memiliki rata-rata usia 20,56 tahun dan juga kebanyakan pemain yang sudah pernah tampil di timnas senior. Sehingga, mereka mempunyai pengalaman yang lebih matang.
Kita semua pasti sepakat bahwa performa Timnas Indonesia mengalami peningkatan yang sangat signifikan dari segi permainan maupun mental. Permainan timnas saat ini lebih positif, agresif, dan juga atraktif dibandingkan sebelumnya.
Untuk secara mental, kita sudah terlihat baik. Berdasarkan pengalaman pertandingan kita dengan tim-tim seperti Jepang, Australia, bahkan Argentina, akan menunjukkan bahwa kepercayaan diri kita bisa lebih baik kedepannya.
Sorotan baik diberikan kepada kinerja ketua PSSI yaitu Erick Thohir, yang mana mempunyai peranan penting dalam proses Naturalisasi pemain guna memperkuat dan mempertajam skuad Garuda Muda.
PSSI sendiri telah banyak menaturalisasi pemain keturunan belanda, seperti yang mencolok pada turnamen Piala Asia U-23 kemarin yaitu Justin Hubner, Nathan Tjoe-A-On, dan juga Rafael Struick. Dapat kita ketahui Bersama bahwa pemerintah kolonialisme Belanda pernah menguasai Indonesia selama lebih dari tiga abad.
Dikarenakan tidak sedikit warga pribumi yang menikah dengan warga negara Belanda dan memiliki keturunan, maka Inilah menjadikan faktor kuat lahirnya para pemain-pemain keturunan tersebut.
Banyaknya pemain keturunan Belanda yang bergabung dengan timnas, pada akhirnya memunculkan cap dengan julukan Timnas Hindia Belanda.
Dengan banyaknya pemain bertalenta di Belanda, tidak menutup kemungkinan banyak dari mereka memiliki darah Indonesia.
Kemajuan dalam sepakbola Belanda dapat berdampak pada kemajuan sepakbola Indonesia karena para pemain keturunan tersebut dapat diizinkan untuk membela timnas sepakbola Indonesia jika mereka ingin meyakinkannya melalui proses naturalisasi.
Naturalisasi sudah tidak asing lagi bagi kalangan pencinta sepakbola di Indonesia.
Pada Tahun 2010, kita digemparkan dengan Naturalisasi pemain yang Bernama Christian Gonzalez, ia juga bermain dan sukses tampil apik di piala AFF 2010.
Jauh daripada itu, Naturalisasi di Indonesia pertama kali didapatkan oleh Arnold van der vin. Penjaga gawang berdarah Belanda ini lahir di kota Semarang dan tercatat sebanyak 48 pertandingan ia tampil untuk membela timnas Indonesia.
Saya pribadi sebagai pencinta sepakbola, tentunya mendukung apa yang dilakukan oleh PSSI dalam program Naturalisasi. Dalam beberapa pertandingan timnas, dapat kita lihat dari susunan pemain yang disusun oleh pelatih Shin Tae Yong, ia masih memberikan kepercayaan kepada pemain lokal untuk bermain.
Yang tidak tergantikan seperti Pratama Arhan, Marselino hingga Rizky Ridho. Menurut saya, hal ini akan memotivasi para pemain asli pribumi untuk bersaing dan berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan kepercayaan dari pelatih. Dahulu pada tahun 2011-2012 bisa disebut masa kelam.








