SAMPIT, radarsampit.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim tahun ini sedang membangun ruang terbuka hijau (RTH) di tiga lokasi, yakni di Jalan Tidar, Jalan Pramuka, dan Jalan Cristopel Mihing.
Pantauan Radar Sampit, pekerjaan pembangunan RTH di Jalan Tidar, tepatnya di kawasan perumahan pemerintah daerah sedang dalam tahap pembangunan. Selama sebulan terakhir, proyek ini dikebut oleh puluhan pekerja dari total lima grup yang diturunkan.
Dari papan proyek berlatar hijau yang terpasang, tertulis bahwa pekerjaan pembangunan taman atau RTH di Jalan Tidar termasuk dalam program pengelolaan keanekaragaman hayati yang dikerjakan oleh CV Angkasa Raya sebagai kontraktor pelaksana. Sesuai perjanjian kontrak kerja, proyek senilai Rp 1.888.000.000 dibangun menggunakan dana bagi hasil dan dana reboisasi (DBH-DR) dengan waktu pelaksanaan yang dimulai dari 7 Oktober – 26 Desember atau 80 hari kalendar.
Pembangunan RTH di Jalan Tidar akan dibuat taman seluas 0,4 hektare di atas lahan milik pemerintah daerah. Lahan yang tadinya rawa, cekung, dan tak terurus sekarang sudah ditimbun.
Pengawas CV Angkasa Raya Satri mengatakan, pembangunan RTH di Jalan Tidar membutuhkan sebanyak 331 rit tanah uruk. Hal itu dikarenakan kondisi tanah pemda yang begitu rendah daripada Jalan Tidar.
“Sekelingnya dibangun siring, di bagian depan akan dipasang paving, tengah dan belakang akan ditanami pohon ulin, meranti dan pohon-pohon lainnya. Ada juga gazebo di tengah, jalur khusus pejalan kaki yang dibuat berkelok dan perbaikan area bermain anak di belakang,” kata Satri saat ditemui sedang ikut bekerja membantu pekerja, Rabu (16/11).
Satri mengatakan, pekerjaan dimulai 13 Oktober 2022. Pada minggu pertama, pihaknya menurunkan 1 grup yang terdiri 6-10 pekerja. Pada minggu kedua, pekerja ditambah menjadi lima grup atau lebih dari 40 pekerja untuk fokus membangun pemasangan batu belah atau batu kali.
“Pekerjaan kami mulai 13 Oktober 2022 karena sambil menunggu material datang. Pemasangan batu belah membutuhkan banyak pekerja karena pekerjaannya cukup berat. Sedangkan, kami dituntut cepat menyelesaikan pekerjaan sampai 26 Desember bulan depan,” ujar Satri.
Satri mengakui material batu belah cukup sulit didapat. Dia harus pesan di Pelantaran. Di samping itu, cuaca hujan membuat pekerjaan terganggu.
“Kendalanya ya saat hujan, saat pemasangan batu belah itu membutuhkan kerapian dan ketelitian, saat hujan deras, pekerja berteduh istirahat, tidak bisa dipaksa dilanjutkan, semennya tidak maksimal merekat,” ujarnya.
Setelah pekerjaan pemasangan batu belah selesai, dalam tiga minggu terakhir pihaknya sudah mengurangi pekerja menjadi 2-3 grup. Untuk mempercepat pekerjaan, pihaknya bekerja lembur sampai malam.
“Malam tadi kita bekerja lembur menimbun dan meratakan tanah, supaya pekerjaan cepat, saya juga ikut membantu supaya kawan-kawan yang bekerja semangat menyelesaikannya,” ujarnya.
Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH Kotim Endah Prihatin yang juga pejabat pembuat komitmen (PPK) mengatakan, pekerjaan RTH terus dipantau. Progres pembangunan selama sebulanan ini kurang lebih 50 persen. Pekerjaan harus selesai Desember bulan depan.
Kepala DLH Kotim Machmoer mengatakan, pembangunan RTH di tiga lokasi menelan anggaran dari DBH-DR sekitar Rp 4 miliar. Pekerjaan akan dilakukan secara bertahap. Taman akan terus dirawat dan dipercantik dan akan terus ditambah pepohonan.
“Saya ingin ada pohon ulin, pohon meranti ditanam di RTH supaya taman ini tidak hanya menjadi syarat penghijauan saja, tetapi juga sebagai taman edukasi bagi masyarakat yang menikmati sore bersama anak-anaknya bisa mengenal jenis-jenis pohon yang ditanami,” kata Machmoer.








