SAMPIT, radarsampit.com – Sejumlah masyarakat di Kota Sampit masih terbiasa pada penerapan hukum rimba. Aksi kekerasan terhadap pelaku tindak pidana dilakukan dengan beringas dan barbar. Fenomena penghakiman jalanan berbahaya bagi tatanan kehidupan sosial dan bernegara yang memegang teguh prinsip hukum dan hak asasi manusia.
Aksi main hakim sendiri itu terjadi di Jalan MT Haryono, Sampit, Rabu (1/2). Seorang pria, Amat (31), jadi bulan-bulanan massa setelah melakukan tindakan yang dinilai berpotensi mencelakakan pengguna jalan lainnya. Amarah warga langsung meletup. Tanpa dikomando, langsung mengeroyok pemuda tersebut.
Berdasarkan rekaman video warga yang mengabadikan detik-detik penghakiman, peristiwa bermula ketika Amat menuntun sepeda motornya di Jalan MT Haryono. Hal itu dia lakukan di tengah jalanan.
Gelagat Amat memang terlihat aneh dan mencurigakan. Ketika ada seorang pengendara dari arah depan yang mendekatinya, pria itu langsung menabrakkan motor yang dituntunnya.
Pengendara yang mendapat ”serangan” dadakan itu kaget. Namun, dia berhasil menghindar. Dari keterangan beberapa warga, aksi Amat itu sudah menelan beberapa korban lain.
Warga pun langsung ramai-ramai mendatangi pria itu. Amat sempat tersungkur ke aspal. Selain bogem mentah, sejumlah tendangan juga mendarat di wajahnya. Akibatnya, dia mengalami luka di kepala, bibir, lengan, lutut, dan mata lebam.
”Dia (Amat, Red) jalan kaki. Motornya didorong, tapi kalau ada pengendara lewat motornya ditabrakan ke pengendara lain. Warga yang melihat itu emosi sampai akhirnya menghajarnya,” kata Nisa, warga yang menyaksikan peristiwa itu.
Menurut Nisa, puluhan warga yang marah menghajar Amat secara membabi buta. Aksi brutal itu berakhir ketika salah seorang warga, berupaya menghentikannya dan meminta massa tak lagi memukuli pria itu.
”Saya teriakin semua supaya setop tadi. Saya takutnya massa makin banyak berdatangan,” ujar warga bernama Rusli yang juga seorang jurnalis ini.
Saat diamankan warga, Amat tampak seperti setengah mabuk. Tubuhnya gemetaran. Dia mengaku pusing setelah dipukul warga, namun tak merasakan sakit. Amat mengakui tingkahnya mendorong motor pada orang lain memang membuat bahaya orang lain. Akan tetapi, dia tak menjelaskan alasannya melakukan perbuatan tersebut.
Tak lama setelahnya, Amat dibawa aparat Polres Kotim untuk diperiksa lebih lanjut. Informasinya, saat diinterogasi petugas dia memberikan jawaban serampangan. Amat juga mengaku minum arak. Namun, dia tak tahu alasan dia sampai dikeroyok massa. Warga Jalan Kembali itu akhirnya dipulangkan dan diminta tak mengulangi perbuatannya.
Menurut pengendara lainnya, Amat juga membuat onar di Jalan HM Arsyad. Sebelumnya nyaris menabrak seorang ibu yang mengendarai motor sambil meneriakkan sesuatu. ”Tadi dia juga ada di Jalan HM Arsyad. Gayanya sambil nantangin orang berkelahi,” kata seorang warga.
Sementara itu, mengutip penjelasan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia di website perguruan tinggi tersebut, Agnes Nauli Shirley W Sianipar mengatakan, aksi main hakim sendiri terkait dua fenomena psikologis yang disebut abuse of power dan bystander effect.
Dalam teori abuse of power, setiap orang punya kecenderungan alamiah untuk mencari dominasi atau kuasa atas orang lain. Kecenderungan ini memanisfestasikan bentuk sosialnya lewat kelompok sosial. Berada dalam kelompok memberikan ilusi kuat atau berkuasa. Kekuasaan sangat erat kaitannya dengan faktor emosional dominasi.
Ketika amarah muncul, secara alamiah ingin menunjukkan dominasi kepada penyebab kemarahan. Hal ini terutama terjadi ketika teritori diganggu orang asing. Dia mencontohkan pada kasus seseorang yang diteriaki maling dan dihakimi massa. Saat itulah massa tersulut amarahnya karena merasa teritorinya dilanggar, walaupun dugaan tersebut belum tentu benar.








