Ratusan Titik Jalan di Arut Utara Rusak Parah

jalan aruta
RUSAK PARAH: Kondisi salah satu jembatan di Desa Sambi menuju Desa Penyombaan yang berbahaya dilewati kendaraan, belum lama ini. (Istimewa)

PANGKALAN BUN, radarsampit.com – Ratusan titik ruas jalan penghubung antar desa di Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) rusak parah. Hujan yang terus mengguyur kecamatan terujung di Kobar itu memperparah kerusakan infrastruktur setempat.

Setiap harinya, warga harus berjibaku dengan lumpur saat beraktivitas, tidak terkecuali anak-anak yang berangkat ke sekolah terkadang harus pergi dan pulang dengan pakaian penuh lumpur.

Bacaan Lainnya

Informasi yang dihimpun, bahkan salah satu jembatan darurat dari Desa Sambi menuju arah Desa Penyombaan juga berbahaya jika dilintasi, karena jembatan sebelumnya sudah hanyut terbawa banjir besar.

Warga Kecamatan Arut Utara, Suhud menyebutkan akibat tingginya intensitas hujan, jalan sepanjang 50 kilometer yang menghubungkan ibukota Kecamatan Arut Utara dengan enam desa yakni Desa Sukarami, Gandis, Kerabu, Penyombaan, Sambi dan Sungai Dau sudah nyaris tidak bisa dilintasi.

“Jaraknya hampir mendekati 50 kilometer, sudah dipotong aspal di setiap desa. Pangkut sampai Sungai Dau, karena beberapa waktu lalu saya bawa motor saya ukur menggunakan spedo meter dari Sungai Dau sampai Pangkut lewat jalan P3DT,” ujarnya, Minggu (18/12).

Baca Juga :  Lahan Terbakar, Poktan Diperiksa Polda

Disebutkannya bukan hanya jalan, tetapi banyak juga jembatan yang sudah rusak, persoalan infrastruktur di Kecamatan Arut Utara menurutnya sudah paket komplit.

Lanjut dia, kondisi infrastruktur yang kurang memadai tersebut berdampak pada sulitnya akses keluar masuk barang dan orang, hasil kebun petani juga sangat sulit untuk bisa dipasarkan keluar.

Warga di belasan desa di Kecamatan Arut Utara berharap agar pemerintah daerah, provinsi dan pusat dapat lebih memperhatikan kondisi infrastruktur warga, dan konsorsium untuk peningkatan jalan selanjutnya agar dapat terus digeber demi pemerataan pembangunan.

“Apakah hanya mimpi bagi masyarakat Aruta untuk menikmati akses infrastruktur yang nyaman, kondisi jalan menghambat keperluan warga dalam segala kebutuhan, dulu masyarakat memimpikan listrik saat ini sudah terwujud, jadi sekarang memimpikan aspal dan semoga terkabul,” pungkasnya. (tyo/sla)

Pos terkait