Ratusan Warga Siap Blokade Jalan Perkebunan, Aksi Protes Sawit di Kotim Meluas

jalan rusak parah
RUSAK PARAH: Ruas jalan yang rusak akibat angkutan perusahaan yang kerap melintas membuat warga kesulitan dan siap melakukan aksi unjuk rasa. (IST/RADAR SAMPIT)

SAMPIT, radarsampit.com – Ratusan masyarakat Desa Patai, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur, siap melakukan aksi unjuk rasa di perusahaan perkebunan PT Surya Citra Cemerlang (SCC). Massa berencana menutup akses jalan menuju perusahaan itu sebagai bentuk protes hancurnya jalan untuk pertanian.

”Kepala Desa Patai sudah menyampaikan perihal rencana aksi mereka ke PT SCC besok (hari ini, Red). Mereka menurunkan ratusan orang untuk menutup salah satu akses  jalan. Ini bagian dari protes mereka, tapi saya pesan jangan anarkis dan mengarah ke tindakan melanggar hukum,” kata Ary Dewar, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kotim, Minggu (9/10).

Bacaan Lainnya

Jalan kelompok tani yang rusak parah tersebut dibangun menggunakan APBD Kotim. Ruas itu akses utama warga untuk kegiatan produksi pertanian warga Desa Patai. Apabila jalan rusak, warga kesulitan melintas mengangkut hasil pertanian.

Menurut Ary Dewar, aksi dilakukan setelah tiga kali surat resmi dari pemerintah desa setempat yang meminta jalan pertanian bisa dipelihara dan diperbaiki diabaikan. Selain itu, sebagai bagian dari program kepedulian dari perusahaan.

Baca Juga :  Berikan Pemahaman Koperasi dan Manfaatnya, Diskop dan UKM Gelar Pelatihan

”Jalan itu juga digunakan truk PT SCC untuk membawa buah sawit. Karyawan mereka juga pakai jalan itu. Saat musim hujan sekarang rusak parah,” ujar Ary Dewar.

Ary menambahkan, perhatian dari perusahaan sangat diharapkan untuk membantu perbaikan jalan. Namun, pihak perusahaan mengabaikan. ”Perusahaan ini tidak ada perhatiannya sama sekali. Harusnya dibantu apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Apalagi pemerintah desa sudah bersurat,” tegas Ary.

Perwakilan PT SCC Donni mengaku tidak mengetahui rencana aksi dan protes terhadap perusahaan tersebut. Dia tak bisa berkomentar banyak. ”Maaf pak, saya belum dengar informasi tersebut. Itu info dari mana?” katanya.

Meluas

Sementara itu, aksi protes terhadap perkebunan di Kotim meluas. Masalahnya beragam. Mulai dari menuntut kewajiban plasma 20 persen, program kepedulian perusahaan, hingga unjuk rasa menuntut tanggung jawab kerusakan jalan desa.



Pos terkait