“Di tahun ini juga ada dua perawat kami yang masih mengikuti pelatihan. Perawat yang melayani pasien HD harus memiliki sertifikasi khusus. Satu perawat idealnya bisa melayani tiga unit atau tiga pasien cuci darah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Yulia mengungkapkan sejak tahun 2017 hingga Juli 2025 ini, Unit Dialisis RSUD dr Murjani Sampit telah melayani sebanyak 816 pasien dialisis dengan kasus gagal ginjal. 473 pasien diantaranya telah mendapatkan panggilan layanan.
“Per Juli ini masih ada 273 calon pasien lagi yang mengantre layanan cuci darah rutin di RSUD dr Murjani Sampit. 216nya warga Kotim dan 57 lainnya pasien luar Kotim,” ujarnya.
Rencana penambahan mesin dialisis juga sebagai upaya untuk meningkatkan layanan kesehatan terutama dalam penanganan kasus pasien gagal ginjal di RSUD dr Murjani Sampit.
“Setelah visitasi yang dilakukan Pernefri, kedepannya delapan unit mesin dialisis yang kami usulkan ini, akan beroperasi secara bertahap dan ditargetkan Januari 2026 21 mesin dialisis beroperasi secara maksimal,” ujarnya.
Namun, perlu diketahui bahwa dari 21 mesin dialisis yang nantinya beroperasi, 1 mesin dialisis ditempatkan di Ruang ICU dan 1 mesin diperuntukkan untuk penanganan pasien dengan kasus darurat (emergency).
“Jadi, apabila semua 21 mesin dialisis beroperasi maksimal, hanya 19 mesin dialisis yang beroperasi setiap hari, dua mesin lainnya tetap beroperasi namun diperuntukkan khusus untuk penanganan kasus emergency dan satu mesin lainnya ditempatkan di ruang ICU,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kotim Umar Kaderi juga menyambut baik kedatangan dr Widodo ke Unit Dialisis RSUD dr Murjani Sampit.
“Selamat datang dr Widodo yang pada hari ini melakukan visitasi, semoga semua berjalan lancar dan rumah sakit mendapatkan kepastian untuk menambah mesin dialisis,” kata Umar Kaderi.
Usulan penambahan mesin dialisis yang dilakukan oleh RSUD dr Murjani Sampit ini untuk menjawab tantangan yang dihadapi terkait antrean pasien gagal ginjal yang belum bisa mendapatkan layanan di Unit Dialisis.








