Radarsampit.com – Peristiwa kelam 49 tahun silam itu masih segar dalam ingatan Sabran Achmad (83). Meski usianya merangkak mendekati satu abad dan berjalan dibantu tongkat, memorinya masih sanggup mengingat sebagian kisahnya saat itu.
Suasana Kalteng yang relatif damai dan masih tertatih karena baru berdiri sebagai provinsi pada 1957 atau delapan tahun sebelum peristiwa 30 September 1965, berubah mencekam, penuh teror, dan ketakutan.
”Seluruh masyarakat Kalteng tak ada yang tahu (mengenai penangkapan orang-orang yang terlibat PKI dan alasannya), kita sama sekali tak tahu,” kata Sabran mengawali cerita, September 2014 silam.
Operasi penangkapan orang-orang yang disebut terlibat PKI dikendalikan langsung oleh militer. Sabran yang kala itu masih berusia sekitar 30 tahun, sempat bingung dan heran ketika banyak tentara turun ke jalan. Tentara juga masuk ke rumah orang-orang tertentu dan membawa membawa mereka pergi.
Para tahanan itu kemudian dikumpulkan di gedung-gedung, saking banyaknya. Meski rasa ingin tahunya besar, Sabran yang saat itu menjabat Kepala Kantor Statistik Kodya Palangka Raya tak berani bertanya langsung pada tentara. Ia khawatir disangka menghalang-halangi aparat.
Situasi yang sama juga dialami warga lainnya yang heran dan bingung, serta ketakutan. Tujuan operasi militer itu baru diketahui Sabran beberapa hari kemudian, setelah mendengar melalui siaran radio.
”Beberapa hari kemudian (setelah operasi militer berlangsung), ada berita di radio mengenai penangkapan itu. Ceritanya, bahwa PKI mengadakan pemberontakan dan orang yang ditangkap adalah anggota PKI,” kenang Sabran.
Selain melalui siaran radio, operasi saat itu juga dijelaskan langsung oleh pemerintah melalui bagian penerangan. Militer saat itu benar-benar menguasai keadaan. Tentara siang malam berjaga. Pos-pos penting seluruhnya dikendalikan langsung oleh tentara bersenjata. Situasinya mirip perang. Orang-orang yang mencurigakan langsung diinterogasi.
”Masyarakat takut, karena semua (dikendalikan) militer. Jaga malam saja militer yang mengawasi. Untuk jaga malam, ronda malam, militer yang awasi. Jadi, kalau jalan malam, ya sudah ditanya. Siang saja, kadang-kadang kalau mereka curiga disuruh berhenti, ditanya, lalu kalau salah menjawab ditahan. Mereka mencari anggota PKI itu. Sangat sedih kita melihat kondisi itu, karena kita masyarakat biasa tak tahu,” kata Sabran.
Kuatnya pengaruh militer saat itu membuat warga berusaha sebisa mungkin tak terlibat dan tidak terlihat mencurigakan. Warga juga tak bisa membela tetangga, teman, dan kerabatnya yang ditangkap.
”Kita sulit bertanya, karena kalau mau tanya ada indikasi (terlibat). Kita manut, kita tak ingin ikut campur. Membela mereka yang ditangkap sama sekali tak bisa. Jadi, kita berusaha supaya tak terlibat,” tutur Sabran.
Situasi mencekam dan penuh ketakutan itu berlangsung selama beberapa tahun. Sabran mengingatnya sampai sekitar tahun 1970-an. Selama rentang waktu itu, penangkapan terus berlangsung.
Warga biasa yang tak tahu menahu, hanya bisa menyaksikan dan mendengar adanya penangkapan. Tak ada yang tahu pasti jumlah orang yang ditangkap atau bahkan dibunuh.
Menyisir Desa
Kisah tentara yang memburu anggota PKI juga masih melekat sebagian dalam ingatan Etnan Daniel secara samar-samar. Saat itu ia tinggal di Kuala Kurun, menjadi ajudan seorang pejabat di wilayah itu.
”Hampir semua desa saat itu didatangi tentara. Mereka mencari anggota PKI,” kata Etnan.
Etnan juga pernah menyaksikan langsung sebuah drama penangkapan. Saat itu, sekitar tahun 1966, ia baru sampai di Palangka Raya melalui sungai menggunakan kelotok. Ia kemudian diajak bermalam oleh kawannya, sopir seorang pejabat di Pemerintah Kodya Palangka Raya, di sebuah rumah. Saat ia melepas lelah, tentara datang.








