Di Balik Liputan Jejak Pembantaian Anggota Partai Terlarang di Kalteng (6-Habis)

Luka dan Nestapa Berkepanjangan Penumpasan Partai Terlarang

cover radar sampit perburuan partai terlarang
Cover Radar Sampit edisi operasi penumpasan PKI di Kalteng puluhan tahun silam, terbit 30 September 2014. (Muhammad Faisal/Radar Sampit)

Oleh: Gunawan

Menulis kembali peristiwa sejarah melalui cerita lisan bukan pekerjaan mudah. Perlu kecermatan dan kehati-hatian mengingat kejadiannya sudah berlangsung puluhan tahun.

Bacaan Lainnya

Selain saksi hidup peristiwa itu yang rata-rata sudah berusia senja dan tak ingat persis kejadian puluhan tahun silam, akses informasi yang sangat terbatas pada masa itu juga menjadi hambatan menghasilkan kisah masa lalu yang seratus persen akurat.

Merekonstruksi sejarah tak semudah membalik telapak tangan, apalagi ketika peristiwa itu berhubungan dengan sebuah tragedi kemanusiaan yang puluhan tahun berusaha disembunyikan dan dikubur dalam-dalam.

Perburuan terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) dan organisasinya setelah 30 September 1965 atau disebut Gestapu adalah bagian dari sejarah yang selama puluhan tahun berusaha disembunyikan itu.

Orang-orang yang hidup dan besar di zaman Orde Baru, pasti hapal betul, bahwa setiap tahun, setiap 30 September diputar film mengenai pemberontakan PKI yang disebut sebagai Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia atau disingkat G30S/PKI. Begitu pemerintah yang berkuasa saat itu menyebutnya.

Saya sendiri masih ingat persis bagian-bagian penting dari film berdurasi empat jam lebih itu. Rasa-rasanya, hampir setiap tahun film itu tak pernah saya lewatkan melalui televisi hitam putih ukuran 14 inchi, yang listriknya masih disuplai tenaga accu. Saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), kerap geregetan dengan tindakan dan kekejaman PKI yang dilakoni para aktor dan aktris itu.

Sejarah mengenai peristiwa 30 September 1965 juga saya terima di bangku sekolah. Guru saya, mulai dari SD hingga sekolah menengah atas (SMA), menyampaikan latar belakang dan sepak terjang PKI di Indonesia sampai akhirnya PKI dilarang berdiri dan orang-orang yang terlibat di dalamnya dihukum dan dipenjara.

Itulah sejarah versi pemerintah saat itu. Selama beberapa tahun saya hidup dalam sejarah yang disampaikan secara sepihak oleh pemerintah Orde Baru. Sampai akhirnya, setelah gerakan reformasi meletus pada 1998, sedikit demi sedikit, tabir gelap sejarah itu mulai terkuak. Orang-orang yang tadinya takut menyampaikan peristiwa itu, mulai berani tampil.

Sejumlah pakar sejarah dan saksi hidup, dalam berbagai komentar di media massa atau buku, sepakat bahwa kejadian setelah Gestapu merupakan peristiwa sejarah yang harus diungkap, tidak dikubur dan dibiarkan berlalu begitu saja. Generasi penerus bangsa ini harus mengetahui lembaran kelam itu sebagai bagian dari sejarah bangsa, meski teramat menyakitkan.

***

Sekitar sebulan lalu (September 2014), dalam sebuah perbincangan kecil dengan Pemimpin Redaksi Surat Kabar Harian Radar Sampit, Duito Susanto, kami membahas mengenai rencana liputan yang akan digarap. Salah satu liputan yang menarik yang bisa digarap adalah mengenai peristiwa setelah 30 September di Kalteng.

Ini menjadi tantangan bagi tim redaksi mengingat peristiwa itu cukup sensitif dan berisiko. Saya kemudian mulai mencari referensi. Meski peristiwa setelah Gestapu sudah pernah saya baca, referensi lain dari berbagai sumber perlu saya dapatkan.

Beruntung, kita sekarang hidup di zaman internet yang mudah diakses. Hanya dengan mengetikkan sebuah kata kunci, kita tinggal memilih artikel atau tulisan mana yang bisa dijadikan acuan.

Cukup culit menemukan referensi tulisan mengenai perburuan anggota PKI di Kalteng. Kalau pun ada, informasinya terbatas dan ceritanya sepotongsepotong, misalnya, mengenai Janti Saconk, Wali kota Palangka Raya pertama yang hanya 30 hari menjabat, atau para buruh beberapa proyek pembangunan yang menyembunyikan diri pada masa itu. Selebihnya, tak ada sama sekali.

Pos terkait