Radarsampit.com – Tak ada yang tahu persis jumlah korban ketika operasi penumpasan PKI di Kalteng masa itu. Mantan militer seperti Walman Narang (86) pun tak tahu persis jumlahnya. Menurutnya, kepada Radar Sampit September 2014 silam, dokumen nama orang-orang yang ditangkap itu hilang saat terjadi peleburan Kodam Tambun Bungai dengan Banjarmasin.
Dia hanya menerima sisa tahanan saat menjabat Komandan Kodim di Palangka Raya yang jumlahnya hanya sekitar 200 orang. Sebagian besar orang-orang yang dituduh terlibat PKI merupakan para buruh. Mereka datang dari Jawa.
”Ketika saya di Pangkalan Bun, ada seorang tua yang bercerita, lapangan udara di sana dibangun buruh-buruh dari Jawa dan mereka dihabisi setelah selesai bekerja,” kata sumber Radar Sampit yang mengetahui sejarah penumpasan PKI di Kalteng dan meminta namanya disamarkan.
Nasib serupa juga dialami para buruh lainnya. Di Palangka Raya, para buruh yang mengerjakan pembangunan infrastruktur di kawasan Panarung juga dihabisi.
”Pengejaran (anggota PKI) di Kalteng, sama dengan seluruh negeri. Mulai tahun 1966 sampai 1968, banyak yang hilang begitu saja, tak tahu tempat lari. Anak istrinya ada yang diperkosa, yang diperlakukan tak senonoh. Saya tahu itu dari salah seorang tokoh kita yang sudah meninggal,” ujarnya.
Tempat eksekusi para tahanan politik yang dituduh PKI menyebar di sejumlah lokasi. Di kawasan Barito, para tawanan yang dituduh terlibat PKI dieksekusi di Pararapak, dekat buntok.
”Di suatu tempat di lokasi itu, serupa Pulau Buru, tempat orang-orang (yang dituduh terlibat) PKI yang dibuang di sana. Kemudian di Palangka Raya, dekat kilometer 27 (Palangka Raya-Tangkiling). Di sekitar itu terjadi penguburan hidup-hidup, di sebelah kanan jalan. Belum lagi nasib orang-orang yang dibunuh dan diculik, tapi tak pernah diungkap karena diliputi ketakutan,” kata sumber ini.
Menurutnya, tempat eksekusi para tahanan politik di Km 27 ruas Palangka Raya–Tangkiling itu berada di sebelah kanan jalan yang dibangun Rusia sebelum peristiwa 30 September.
Meski demikian, lokasi persis tempat eksekusi itu tak diketahui pasti. Tak ada permukiman warga di lokasi itu, hanya lahan kosong yang ditumbuhi pohon dan ilalang. Di sepanjang jalan itu hanya ada beberapa bangunan yang didirikan warga di pinggir jalan. Itu pun dibangun jauh setelah peristiwa itu terjadi.
Sebagian buruh yang mengerjakan ruas jalan Palangka Raya–Tangkiling juga diduga ada yang ditangkap dan dibunuh, sebagian lainnya menyembunyikan diri. Ruas jalan sepanjang sekitar 34 kilometer itu dibangun sejumlah insinyur Rusia. Ratusan tenaga buruh dari Jawa dikerahkan bersama puluhan buruh lokal.
Awalnya, pembangunan jalan yang dimulai sekitar tahun 1960-an itu dirancang sepanjang 175 meter menuju Sampit, Kotawaringin Timur. Akan tetapi, setelah pecahnya peristiwa 30 September, langsung terhenti. Para insinyur Rusia (negara berpaham komunis yang dulunya bernama The Union of Soviet Socialist Republic) berupaya menyelamatkan diri. Beberapa di antaranya ada yang kembali ke negaranya.
Mengutip tulisan yang dipublikasikan Nanang S Fadillah dari Kyiv, Ukraina, salah seorang insinyur Rusia yang ikut merancang jalan itu adalah Lena. Wanita lulusan Universitas Kazan, Rusia, tahun 1955 ini, bersama suaminya ikut mengerjakan jalan itu pada 1964.
Mereka diminta Kementerian Transportasi dan Pembangunan Uni Soviet untuk mengerjakan proyek kerja sama Indonesia – Uni Soviet itu. Setelah dua tahun menjadi salah satu otak pembangunan jalan di atas gambut serta jembatan dan saluran air di Tangkiling, pada November 1966, para insinyur Soviet diberitahu bahwa mereka harus meninggalkan Kalimantan secepatnya karena terjadinya perubahan politik di Indonesia.







