Terowongan Nur Mentaya Dongkrak Perekonomian, Waspadai Ancaman Raksasa Jalanan

terowongan nur mentaya
MELENGGANG: Sebuah truk besar melintas di Terowongan Nur Mentaya ketika sejumlah warga tengah bersantai menikmati malam, Kamis (22/12). (HENY/RADAR SAMPIT)

SAMPIT, radarsampit.com – Kehadiran Terowongan Nur Mentaya di Kota Sampit untuk ikut mendongkrak perekonomian tak hanya jadi angan. Lokasi itu tak pernah sepi pengunjung. Usaha kuliner warga pun bermunculan. Di sisi lain, ancaman raksasa jalanan yang masih kerap melintas bisa jadi ancaman mematikan jika tak segera diperhatikan.

Pantauan Radar Sampit tadi malam (22/12), sejumlah warga asyik bersantai tak jauh dari dagangan kuliner di pinggir jalan. Sambil menikmati indahnya cahaya terowongan, beragam jajanan yang disajikan membuat warga kian betah menikmati malam.

Bacaan Lainnya

Di tengah keramaian warga, sebuah truk ”raksasa” melenggang di bawah terowongan. Ukurannya yang besar membuatnya menguasai separuh badan jalan.

”Bahaya jika ada warga yang membawa anak kecil dan tak menjaganya dengan hati-hati. Truk besar seperti itu bisa menimbulkan kecelakaan kalau di lokasi ini lagi ramai-ramainya. Belum lagi polusi udara yang ditimbulkan cukup mengganggu kenyamanan,” kata Rahman, seorang warga yang dibincangi Radar Sampit.

Dia berharap pihak terkait memperhatikan persoalan tersebut dan melarang truk besar melintas. ”Jangan sampai ketika ada korban baru diseriusi,” katanya.

Wajah Kota Sampit di Jalan Tjilik Riwut pada malam hari memang berubah total ketika Sabtu (10/12) malam lalu penerangan jalan umum di jalur tersebut dinyalakan serentak. Kawasan yang sebelumnya gelap dan sepi, menjadi terang benderang. Bupati Kotim Halikinnor memberinya nama Terowongan Nur Mentaya.

”Saya berharap Terowongan Nur Mentaya ini membawa dampak positif luas bagi masyarakat dan daerah kita. Tidak saja membuat kawasan ini menjadi cantik dan ramai, tetapi juga mampu menggerakkan sektor pariwisata dan ekonomi kerakyatan,” kata Bupati Halikinnor di Sampit, Rabu (21/12) , seperti dikutip dari Antara.

Diberi nama Terowongan Nur Mentaya karena saat malam hari lampu hias yang melengkung dari kedua sisi ke tengah jalan terlihat ibarat membentuk sebuah terowongan cahaya. Halikinnor mengaku ide ini didasarkan pengalamannya saat menjalankan ibadah haji melihat terowongan Mina yang terlihat cantik dengan gemerlap cahaya.

Nama Nur diambil dari Bahasa Arab yang berarti cahaya, sedangkan Mentaya merupakan semboyan Kotawaringin Timur yang diambil dari akronim Menarik, Tertib, Aman dan Berbudaya.

Ada 172 tiang lampu hias di kawasan sepanjang tiga kilometer yang membentang dari Bundaran Adipura Jalan Samekto sampai Stadion 29 November Jalan Tjilik Riwut.

Tiang lampu hias terbagi masing-masing 86 titik di kiri dan kanan jalan dengan jarak antar tiang sekitar 30 meter. Pemerintah daerah mengeluarkan anggaran sekitar Rp14,8 miliar untuk pemasangan lampu-lampu tersebut.

Setelah diresmikan, Terowongan Nur Mentaya selalu ramai. Saat Sabtu malam, kawasan itu cukup padat. Bahkan, lalu lintas sampai macet lantaran banyak kendaraan warga yang bersantai menikmati suasana di kawasan tersebut.

”Alhamdulillah turut bangga. Sampit tidak kalah dengan kota-kota besar. Rasa masih tidak percaya kota kita juga bisa membuat terobosan bagus seperti ini,” kata Alma, salah seorang pengunjung.

Masyarakat memuji terobosan yang dibuat pemerintahan di bawah pimpinan Bupati Kotawaringin Timur. Terlepas ada pihak yang mengkritisi, namun respons positif masyarakat terhadap kehadiran Terowongan Nur Mentaya menjadi gambaran dukungan terhadap inovasi ini.

”Saya berharap kawasan Terowongan Nur Mentaya mampu memicu kegiatan ekonomi kerakyatan. Masyarakat bisa membuka berbagai usaha di sisi jalan sehingga bisa mendapatkan manfaat ekonominya. Kawasan ini juga bisa kita jadikan lokasi ‘car free day’ untuk menggerakkan wisata dan sektor UMKM,” kata Bupati Halikinnor.

Pos terkait