SAMPIT, radarsampit.com – Jelang perayaan Tahun Baru Imlek 2575, atau tahun 2024 masehi, pengurus dan umat Buddha Vihara Avalokitesvara, Jalan Kopi Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai melakukan ritual cuci atau basuh rupang, Minggu (4/2/2024).
Satu per satu patung dewa, yakni Dewa Sakyamuni Buddha, Dewi Kwan In Phu Sa, dan Dewa Pelindung Dhamma dicuci dan dibersihkan. Selain membersihkan rupang, mereka juga membersihkan bagian lain, seperti altar, wadah hio, dan wadah yang digunakan untuk menempatkan patung dewa dewi.
Dalam prosesi tersebut, seluruh rupang Buddha dimandikan dengan beberapa tahapan. Pertama, disikat dan dicelupkan ke air sabun. Kemudian dibasuh dengan air bersih. Terakhir, rupang dibilas dengan air bunga.
Rupang Buddha berukuran kecil silih berganti dimandikan. Sementara itu, rupang-rupang besar dibersihkan dengan cara disikat dan dibasuh menggunakan handuk basah.
Ketua Majelis Buddayana Indonesia (MBI) Kalimantan Tengah Bambang Siswanto mengatakan, basuh rupang bisa dimaknai sebagai penghormatan terhadap leluhur dan pembersihan jiwa umat Buddha, terutama jelang Tahun Baru Imlek

”Sebelum Imlek biasa ritualnya basuh rupang dewa-dewa, yang mana maknanya itu pembersihan jiwa. Kita harus menyadari bagaimana membersihkan diri kita, diibaratkan diri kita penuh kotoran batin. Dengan membersihkan rupang, kita juga harus sadar bahwa kita pun harus membersihkan diri. Jadi, setiap waktu, setiap saat kita menyadari harus membersihkan diri,” ujar Bambang.
Terdapat sekitar 20 rupang di Vihara Avalokitesvara Sampit dan sekitar delapan altar utama yang dibersihkan. Selain rupang, umat Buddha Vihara Avalokitesvara Sampit juga mengadakan pembersihan vihara serta lingkungan vihara.
”Vihara dan lingkungannya kita bersihkan dan juga membersihkan rupang atau patung-patung. Rupang dewa-dewa setahun sekali kami bersihkan. Selain karena debu, juga karena asap dupa yang menempel pada rupang, jadi harus dibersihkan supaya bagus lagi,” ujarnya.
Bambang menambahkan, pada ritual basuh rupang, hal yang wajib adalah bunga dan kain yang digunakan untuk membersihkan rupang harus baru. Tidak menggunakan kain yang bekas untuk memaknai pergantian tahun yang baru.
”Menyambut tahun yang baru, kami membersihkan rupang pakai air bunga segala macam. Air bunga itu melambangkan keharuman. Dimaksudkan agar harumnya Buddha Dharma yang ada di Sampit, khususnya, itu bisa menyebar ke seluruh orang dan seluruh penduduk bisa mendapatkan dampak yang positif dari kegiatan-kegiatan ini,” katanya.
Prosesi pencucian rupang menjadi salah satu bentuk persiapan dan pengamalan tujuh bagian puja dalam ajaran Buddha. Melalui prosesi tersebut, umat Buddha tak hanya membersihkan lingkungan luar, tetapi juga simbol untuk membersihkan diri sendiri menjelang pergantian tahun.
”Filosofi dari basuh rupang ini sama seperti kita membersihkan diri kita juga. Kita menghadapi tahun yang baru dengan tantangan yang baru, semangat yang baru ke depan. Jadi, dengan kegiatan membersihkan rupang sekalian juga mempersiapkan membersihkan diri,” ujarnya.
Tahun baru Imlek akan jatuh pada 10 Februari 2024. Tahun ini merupakan shio Naga Kayu yang melambangkan kekuatan, kemakmuran, keberuntungan, kehormatan hingga kesuksesan.
”Naga ini semacam kendaraan dewa yang sangat istimewa. Makanya, kebanyakan orang Tionghoa mendambakan memiliki anak di tahun naga ini, karena merupakan binatang yang istimewa dan legendaris, tidak pernah bisa ditemui lagi. Lambang-lambang kekayaan, kemakmuran, kebesaran orang Tionghoa itu di shio naga,” ujarnya.








